Pay It Forward !
Sebelumnya, gue udah mencoba mencari istilah ini dalam bahasa Indonesia, tapi sampai gue mau nulis, belum ketemu terjemahan yang pas. So, be it then, gue akan tulis tetap sebagai ‘Pay It Forward’. Orang yang mengenalkan gue dengan konsep Pay It Forward adalah teman baik gue di kantor, namanya Denny. Pay It Forward (PIF) adalah keadaan dimana elo meneruskan kebaikan atau good gesture yang pernah elo terima dari orang ke orang lainnya. Gue kasih contoh ya. Pasti kenal grup musik Maliq & D’Essential kan? Mereka adalah binaannya EQ Puradireja, produser yang juga personil grup Humania (who was my major crush once..hehe). Setelah terkenal seperti sekarang, Angga, si vokalisnya Maliq, kemudian membina satu grup bernama 21st Night. Sekarang 21st Night juga sudah mulai eksis di panggung-panggung musik. Nah, yang dilakukan Angga inilah yang disebut dengan ‘Pay It Forward’. Jadi dia meneruskan apa yang pernah dia terima dari EQ ke pemusik lainnya.
Menurut gue, PIF ini adalah bentuk yang lebih advanced dari konsep balas budi. Ketika kita berbicara mengenai balas budi, biasanya itu berarti kita membalas kebaikan orang yang pernah melakukan atau memberikan sesuatu kepada kita. Jadi kalo A pernah ngebantu B, maka B akan membalas dengan membantu A. Ini nggak salah. Kita kan nggak mau juga dibilang orang yang nggak tahu balas budi, kan? Tapi kenapa kita nggak membawa balas budi ini ke satu tingkatan yang lebih ‘advanced’ dan lebih luas, yaitu dengan pay it forward tadi. Ketika kita berpikir dengan konsep balas budi biasa, maka kebaikan yang ada hanya berputar dilingkaran yang itu-itu saja. A bantu B, B balas bantu A, A membalas lagi dengan membantu B. Kapan dong kebaikan itu tersebar? Tapi jika kita terapkan konsep PIF, kebayang nggak yang terjadi? A membantu B, B menolong C, C membantu D, dan seterusnya. Betapa besarnya lingkaran kebaikan yang bisa terbentuk. Dan betapa cepatnya sebuah kebaikan bisa tersebar.
Memang nggak gampang untuk menerapkan konsep ini. Most of the time, orang biasanya menganggap bahwa mereka harus menjadi seseorang yang ‘besar’ dulu untuk bisa membantu orang lain. Padahal nggak harus begitu. Contoh yang gue kasih mengenai Angga-nya Maliq hanya satu ilustrasi. Lo nggak harus nunggu jadi seterkenal Angga dulu, untuk menolong orang lain ngeraih mimpinya jadi musisi. Jadi inget, dulu di SD, seorang teman mengajari gue cara cepat menghafal urutan sembilan planet di tata surya, dari yang paling dekat matahari sampai yang paling jauh. Dia menyingkatnya menjadi Meri Vetik Bunga Mawar Yang Segar Untuk Nenek Plinplan (untuk mengingat urutan Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto). Pinter yah temen gue itu. Gue, yang gak jago menghapal, merasa sangat terbantu dengan singkatan temen gue ini. Gue sebarin singkatan itu ke seluruh kelas. You know what, akhirnya banyak banget ide temen sekelas gue yang bermunculan untuk singkatan. Dari singkatan menghapal ibu kota provinsi, singkatan untuk nama pahlawan revolusi, sampai singkatan sepuluh sungai terpanjang di Indonesia.. hihihihi…
All I am saying is, what we pay forward doesn’t really have to be a big thing, and we ourselves don’t need to be ‘big’ people to pay something forward. Kalau semua orang hanya mau meneruskan kebaikan-kebaikan yang besar, ya nggak akan ada dong sesuatu yang berawal dari kebaikan kecil. Kalau semua orang nunggu sampai menjadi ‘seseorang’ untuk nerusin kebaikan, apa kita yakin kalau orang yang perlu bantuan bisa menunggu sampai kita menjadi orang besar?
Harus ada kesadaran seseorang ketika dia diberi kesempatan untuk pay something forward. Jangan malah menutup mata dan mikirin diri sendiri, dengan dalih apapun itu. Menerima kebaikan atau kesempatan dari seseorang adalah suatu anugerah, tapi meneruskan kebaikan tersebut, menurut gue, adalah suatu kewajiban.
udah pernah nonton film nya, pengen nonton lagi, tapi sekarang susah nyarinya …
setuju banget dengan konsep PIF, hukum menabur menuai, istilahku siy, KEBAIKAN itu MELINGKAR, …
selamat berbuat kebaikan !!!
setuju…setuju..perdamaian dunia akan mudah diwujudkan…
aku masih punya filmnya..
You such a story teller Vina, why don’t you blog more often… :), updating blog once in every few months is such a waste of talent