And I Love You Because …
Ada banyak alasan kenapa kita mencintai seseorang. Bisa karena sifatnya, seperti :
‘dia pengertian banget’
‘gue belum pernah ketemu orang yang sesabar itu’
‘keceriaannya bikin gue selalu pengen deket sama dia’
Ada yang cinta karena tampilan fisik. Banyak yang akan menyangkal hal ini, but let’s face it, physical attraction does matter for some people
‘gue suka banget lihat matanya.. bagus.. ‘
‘gue memang suka cewe berkulit putih, jadi waktu kenalan gue langsung terkesan sama kulitnya yang cerah’
Ada juga sih yang mencintai untuk alasan yang mungkin lucu kedengerannya :
‘soalnya gue baru ketemu orang yang bisa ngukur ketinggian ombak laut’ (peace, ya Sit!)
‘dia ngebela-belain ngambilin semua kacang dari roti bakar gue, satu per satu, karena dia tahu gue nggak suka kacang!’(gue udah izin ya, dut!)
Nggak ada yang salah dengan alasan-alasan tersebut. Untuk gue sendiri, mencintai itu sepenuhnya main hati. Sehingga alasan-alasan yang disebutkan mungkin cuma rasionalisasi aja. Padahal main hati kan nggak salah juga ya, tokh kita sendiri yang ngejalanin.
Gue ingat sama bukunya Ninit Yunita, Test Pack. Ada kutipan didalamnya yang menurut gue kena banget. Gue lupa tepatnya bagaimana kata-katanya (berhubung buku itu ternyata dipinjam sama entah siapa dan belum balik ke gue), tapi idenya kurang lebih begini, ‘saya mencintai dia karena saya mau dan memilih untuk itu. Bukan karena dia baik, sabar atau menarik. Saya cinta dia karena saya dengan sadar memilih untuk mencintainya dan itu seharusnya cukup untuk kita ngelewatin apa pun yang terjadi’.
Akan selalu ada orang lain yang lebih sabar dari pasangan kita. Akan selalu ada seseorang yang bisa lebih mengerti kita. And I can assure you, akan selalu ada lelaki atau perempuan yang lebih menarik secara fisik dari pasangan kita. Tapi kan kita gak main ninggalin pasangan kita begitu saja setiap kali seseorang yang lebih baik muncul. Not when you realize the reason that you love her or him is because you chose it.
I don’t believe that love fades away.
Passion might fade away, but the love is always there.
It may transform from the kind when a single touch will rock the entire of your universe, to the kind when a silent moment feels like the best conversation ever.
She or he may change from the one you climb Mount Everest together with, to the one you push the grocery cart in a nearby supermarket with.
But the love is there.
Dan alasan kenapa tetap ada, adalah karena kita MEMILIH untuk mencintainya.
(Untuk teman-teman gue yang sedang mengalami sedikit ‘sentilan’ dalam percintaan J)
Kate: Wah Tan, inspiring banget yak…
Tan: Mayan dah
Kate: yang ngukur ketinggian itu gw banget dehhh…*terharu, berkaca2*
Tan: HEH…ga semuanya tentang lo, tauuuu…
Kate: oh, itu bukan gw ya?
Cowoknya Kate: tau nih…GR bgt sih..
Tan: gw pokoknya paling setuju sama yang Passion2 itu..kalo kata orang sunda mah: “Fashion comes and goes, but style is poreper”
Kate dan Cowoknya: *Gubrak*
@Kate and Tan
Kate dan Tan, comment kalian menyentuh hati bangettt deh… lain kali gak usah pinjem akses internet gue ya, Kate
bwahahahahaha.. *yang punya line ketawa baca comment-nya Kate & Tan*
wah,akhirnya dipublish juga vin.. anyway, thank you for being the only eyewitness in the crime scene hehehe..
hahaha.. cinta emang bego, (sumpah ngak ada yang lebih bego dari jatuh cinta hanya karena roti bakar keparat lo itu dibersihin dari kacang-kacang yang lo tak sukai oleh tangan milik lelaki tanpa hati itu) tapi gue inget satu kutipan dari segala kutipan bijak yang keluar dari mulut ‘lo…. “Gue minta maaf kalau nanti, gue jadi perempuan yang ceme-ceme saat gue jatuh cinta ya….”
hahaha… I hope someday , i could use that sentence as a defence in my stupidity concerning love…
Cinta… itu soal hati… jadi what ever… gimana pun juga pasanganny klo sudah cinta (tulus)…ga kan pernah bisa dipisahkan…
hehehe…its about the heart…. no reason…
thx