Be Loud, Be Proud and Be Bold !
“Air tenang biasanya menghanyutkan”
“Kalau tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu”
“Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin menunduk”
These are the lines which I held dearly in my life. Semuanya mengisyaratkan satu hal untuk gue, yaitu perlunya kerendahan hati. Ketika ada sesuatu yang baik dari elo, nggak usah dibesar-besarkan. Nanti jadinya sombong.
Tapi akhir-akhir ini gue mulai berpikir beda. Kenapa nggak kita ‘berisik’ tentang kehebatan kita? Kenapa kita harus diam-diam aja kalau kita berbuat sesuatu yang baik? Kapan seharusnya kita rendah hati dan kapan kita harus menepuk dada dan bilang,’hey, gue juga telah melakukan banyak hal dengan baik’? Apakah kita beneran akan dicap sombong kalo kita mengemukakan kelebihan-kelebihan kita?
I’ll tell you what. Selama kita berjalan di muka dunia, selama itu pula kita berada dalam pengamatan lingkungan. Pada akhirnya lingkungan ini akan memberikan cap kepada elo, apakah elo itu orangnya baik, jahat, pintar, bodoh, cantik, jelek, dan cap lainnya. Sayangnya lingkungan terkadang lebih cepat bereaksi terhadap hal-hal yang negatif. Ya udahlah ya, tayangan infotainment di TV sudah sering sekali membuktikan itu. Ketika artis A menang sebuah festival, liputannya akan lebih sedikit daripada artis B yang sedang terlibat pertengkaran dengan produsernya. Sesuatu yang negatif akan lebih mudah diingat dan biasanya bertahan lebih lama.
Nah, untuk mengimbangi kenegatifan itulah, kita harus mulai berkoar-koar mengenai sesuatu yang bagus yang kita lakukan. Let’s face it, kita semua pasti pernah melakukan kesalahan, pasti pernah punya flaw. Tapi kita semua juga pasti pernah melakukan suatu hal dengan benar. Supaya kita mendapatkan penilaian yang fair, maka semua hal negatif dan positif seharusnya dilihat secara keseluruhan. Kalau kita memilih untuk rendah hati alias kalem-kalem aja dengan tidak mengekspos hal-hal baik kita kepada lingkungan, suatu kali ketika kita melakukan kesalahan, maka kesalahan itu akan diangkat dengan tinggi dan menutupi semua kebaikan kita yang lain. In the end, kita akan dicap jelek. Padahal cap itu mungkin didasarkan hanya pada penilaian sebagian saja. Terus terang, gue dulu pernah sebel sama seorang teman, karena menurut gue dia show off banget akan kemampuannya. Tapi di kemudian hari gue tahu, that person was being loud and proud karena terlalu sering dicap negatif karena suatu kesalahan di masa lalunya. Dia merasa harus nge-balance semua itu dengan menyebarkan kelebihan-kelebihan yang dia punya, yang mungkin kurang disadari sama orang sekitarnya.
Jadi, jangan lagi menyimpan sendiri semua kebaikan dan kehebatan yang pernah elo lakukan. Bagilah ke orang-orang, apa aja kehebatan lo. Menurut gue normal-normal aja kok kalo, misalnya, sekali-sekali kita ngomong,
”eh, gue bisa kok selesain proyek itu. Dulu gue udah pernah buat dan responsnya bagus,” atau
”gue kemarin ketemu mantan murid gue dan gue terharu banget waktu dia bilang gue adalah pengajar favoritnya dan dia gak pernah lupa sama gue”
atau
”kemarin tulisan gue lolos dengan editing yang sedikit banget. Kayanya gue improve banget deh akhir-akhir ini”
Biarkan lingkungan sekitar lo tahu, betapa berharganya elo sebagai manusia dan seberapa besar elo sudah berkontribusi terhadap kebaikan di dunia. Bahwa hal negatif yang mungkin ada di elo, itu hanyalah sebagian dari keseluruhan hal yang elo punya. Menjadi rendah hati bukan berarti pasrah ketika elo dinilai hanya berdasarkan kekurangan lo. Buat orang-orang tahu apa aja kelebihan dan kehebatan kita, sehingga ketika suatu kali mereka menyudutkan kita dengan kekurangan, kita bisa membalik keadaan dengan bilang,
” you only know about my weakness, then it’s your lost. The truth is, you and you alone, were the one who left behind, because others agree that I did a lot of things good!”
Be loud, be proud and be bold! For your own sake..