Archive

Archive for August, 2009

The Man Who Creates A Day

August 31st, 2009

Dua minggu yang lalu kantor gue kedatangan tamu dari luar negeri. Seorang petinggi yang, katanya, waktu interview rekrutmennya langsung berhadapan dengan founding fathernya kantor gue. Kebayang nggak? Betapa tua dan pengalamannya dia .. :)  Buat lebih akrab, kita panggil aja dia Bob.

Berhubung kedudukannya yang penting banget, Bob ini jadi sering sekali melakukan perjalanan ke luar negeri. Bayangkan aja, selama tahun 2009 ini, yang berarti baru dari Januari sampai Juli kemarin, Bob sudah membuat 38 trip keluar negeri. Kalo diambil rata-rata, itu berarti sekitar 5 trip per bulan, atau paling nggak 1 trip per minggu!

Teman gue kemudian ada yang iseng nanya sama Bob,”how do you find time for your self, your family, and your hobby?” Tau nggak jawabannya apa?

“Easy, I create my own day!”

Hmmmm… setahu gue sih, Tuhan memang masih menciptakan banyak hal, tapi tidak hari. Eh, by the way, kalo ada tambahan satu hari lagi dalam seminggu, mau kita namain apa ya? Hasunggu, untuk singkatan dari ’Hari Sesudah Minggu’? atau Habenin, untuk ‘Hari Sebelum Senin’? :) … Anywayyyyyy, Jadi, gimana cara Bob menciptakan hari?

Menurut Bob, dia selalu merencanakan semua perjalanannya di awal tahun. Yang dia lakukan adalah dia membuat tripnya ke satu arah, yaitu arah timur. Jadi misalnya dia berangkat dari Indonesia. Terus dia perlu melakukan trip ke Australia, Vietnam dan Thailand. Maka dia akan membuat rute perjalanannya menjadi Jakarta – Thailand – Vietnam – Australia. Dan seterusnya demikian ke arah timur. Kenapa ke arah Timur? Karena waktu berjalan lebih dulu semakin ke timur. Elo jadi ’memanipulasi’ waktu perjalanan. Contoh gampangnya, dari Jakarta ke Denpasar itu perlu dua  jam penerbangan. Jadi kalau lo berangkat dari Jakarta jam 9, seharusnya lo baru sampai pukul 11. Tapi karena Denpasar itu lebih ke timur dan lebih cepat satu jam, maka elo akan sampai di Denpasar pukul 12.00. In other words, elo dapat keuntungan satu jam. Kalau ini diteruskan ke arah Timur, elo akan dapat keuntungan waktu yang lebih banyak lagi. Pernah nonton atau baca ‘Around The World in 80 Days’? Di situ, si tokoh utama Mr. Fogg, akhirnya mendapatkan keuntungan waktu satu hari karena rute perjalanannya yang ke arah timur, seperti berikut :

London - Suez – Bombay – Calcutta - Hong Kong – Yokohama -  San Francisco - New York - London

Naaahhh… Bob, menurut gue, mengaplikasikan ide Mr. Fogg ini, sehingga dia bisa menciptakan harinya sendiri. Cool, eh?

Apa yang dilakukan Bob membuat gue jadi malu. Soalnya gue sendiri suka banget pakai alasan ‘nggak punya waktu’ untuk tidak melakukan banyak hal. Mulai dari ngeberesin kamar, menyampuli buku-buku gue, ketemu teman-teman lama, kumpul bareng keluarga besar, menyiangi padi di sawah, mengangon kerbau di ladang, menggembalakan domba di padang rumput… okeeee, mungkin udah terlalu jauh nih gue mikirnya. Intinya, alasan nggak punya waktu selalu akan terdengar begitu benar dan begitu pintar tiap kali kita nggak melakukan sesuatu yang memang memerlukan alokasi waktu yang tidak sebentar. Padahal, kalo dipikir-pikir, kamar gue kan nggak salah. Apa iya, karena gue sibuk, dia jadi harus menanggung sarang laba-laba di langit-langit karena nggak sempat gue bersihin? Apa iya buku-buku gue harus menanggung akibat dimakan rayap karena gak sempat gue sampulin, padahal mereka gak ikutan dalam membuat gue sibuk? Belum lagi kerbau dan domba tak bersalah itu… oke, stop there!

Balik lagi, selalu ada cara kok. Bob membuat caranya dengan menciptakan harinya sendiri, dengan rencana perjalanan yang cermat. Kita yang masih di dalam kota aja, seharusnya bisa lebih leluasa, kan? Masa sih 24 jam yang ada dalam sehari nggak bisa diakalin supaya cukup buat semua? Kalau 24 jam nggak cukup, masa iya 7 hari seminggu nggak bisa diakalin? Nggak bisa juga? Come on, 4 minggu sebulan? It’s all about your will and witty planning.
Jadi, next time, kalo ada yang bilang sama elo (terserah deh mau keluarga, temen atau pacar), “sorry, I don’t have time”, you can answer it, “Then MAKE one!”

Post to Twitter

A Cup of Tea

Let’s Be Pretty!

August 3rd, 2009

Menurut lo, elo cakep nggak? Kalo gue ditanya gini, biasanya gue akan menjawab :

“cakep, cuma sayang belum zamannya aja” atau

“cakep dong, tapi di tahun-tahun kabisat aja!”

Hehehe…

Sebagai salah satu anggota kelompok mayoritas dari mereka yang nggak memiliki wajah yang bisa ’mengalihkan dunia seseorang’ atau badan yang bisa lewat di antara dua kursi berhimpitan, gue rasa gue cukup objektif untuk mengatakan kalau jadi cantik itu perlu. Okeee, ’cantik’ kedengaran terlalu ekstrem ya? Gimana kalau gue bilang, daya tarik fisik alias physical attraction itu perlu?

Gue suka menganalogikan begini, katakanlah lo masuk ke toko kue. Ada dua kue disitu. Yang satu sponge cake polos. Yang satu lagi penuh dengan icing, taburan coklat, ada strawberrynya pula. Yang mana yang akan bikin elo tertarik untuk mencoba rasanya? Bener nggak kalau gue bilang, kue yang ke dua? Setelah dicoba, mungkin aja kita jadi tahu kalo kue ke dua itu terlalu manis. Atau justru pahit karena gosong sedikit. Tapi tetap aja faktanya adalah si kue ke dua mendapat kesempatan lebih dulu untuk dicoba.

Dan menurut gue, analogi itulah yang berlaku di dunia tempat tinggal kita. The pretties will always have bigger chance, because their look charms people. Ketika kita belum punya latar belakang informasi, alias zero footing, rasanya sah-sah aja dong kalo penilaian didasarkan kepada apa yang bisa kita lihat duluan. Buat beberapa orang hal ini mungkin kedengerannya nggak adil. Tapi kalo kita pikirin lagi, sebenernya orang sering kok membuat penilaian berdasarkan tampilan fisik. Nyokap gue kalau beli telur ayam di warung selalu milih yang besar dan bersih. Padahal kan kandungan gizi telur ayam yang besar dan yang kecil sama aja kan? Kita ketemu pengemis yang masih muda dan badannya tegap, kita akan mikir ‘badan masih kuat gitu, kok ngemis?’ Laahhh, padahal kita kan gak tahu apa aja usaha yang udah si pengemis muda lakukan.. Siapa tahu dia udah jungkir balik usaha cari makan dengan kerjaan lain, tapi nggak dapat uang juga. Cuma karena badannya masih bagus, kita seolah menilai dia nggak usaha dan cari jalan singkat dengan ngemis. Mungkin kalo si pengemis tahu pikiran kita, dia akan ngomong balik, “memang salah gue kalo badan gue masih kuat??” hehe…

So, it’s a normal thing, physical attraction is. Daripada marah-marah dan ngerasa diperlakukan tidak adil, lebih baik kita mulai berbenah diri dengan tampil semenarik mungkin. Kita pastinya pengen banget kan orang tahu kalo kita lucu, punya otak yang cerdas dan kepribadian yang menyenangkan. Kenapa nggak bikin kesempatan kita jadi lebih besar dengan menjadi physically attractive? Cantik atau ganteng mungkin udah dari sananya, tapi cara berpakaian, cara dandan dan cara jaga badan adalah hal-hal yang bisa dipelajari. And by those, physical attraction is only a matter of time! J

Post to Twitter

A Cup of Tea