Archive

Archive for May, 2009

Kenalin, saya Vina dan saya (akhirnya) punya Facebook

May 27th, 2009

Gue pernah posting di multiply gue tentang gue yang gak punya facebook . Dan memang gue gak pernah berniat bikin account di FB. Males maintainnya…

But thanks to my friend, Santi Abed, yang prihatin melihat gue jauh dari jangkauan hingar bingar dunia cyber networking, dengan segala kerelaan hatinya, diam-diam ngebuatin gue account di FB. Katanya ‘Surprise!’

Yah, jadilah sekarang gue salah satu dari 70 juta orang pengguna social network satu itu… Baru satu hari, udah ada temen gue yang keukeuh banget pengen ngajarin gue menggunakan wall, nge-tag, dan nitty gritty facebook lainnya… hehe… satu-satu yaaaa, kan gak bisa langsung jago..

Seorang anak kantor bilang kalo dia kecewa sama gue, karena sebelumnya dia pikir gue akan bertahan melawan arus zaman ..hahaha… ini kado dari temen, bung, harus diterima dong :) yet, lo juga add gue tokh akhirnya…

Ada juga temen gue yang ketawa guling-gulingan dan berkomentar, “jadi lo sekarang ikut mainstream juga ya? What’s next? Lo akan punya account BCA dan beli Blackberry?”   BCA, nggak lah, belum perlu. Gue udah punya Mandiri yang gue rasa sudah cukup mainstream juga. Blackberry? Ini sih bukan masalah gue gak mau mainstream, tapi memang gak punya duit buat beli. Kalo ada yang mau kasih, saya dengan senang hati akan pakai Blackberrynya… hoho..

Ya sudah gitu aja… jadi sekarang gue jadi pengikut FB.. Mudah-mudahan tujuan Abed ngebuatin gue account FB tercapai, ya Bed :)

Post to Twitter

A Cup of Tea

Sorry, but I do care!

May 26th, 2009

Seorang teman baik gue pernah bilang, gue terlalu peduli dan pakai hati. Ketika ada temen gue yang menceritakan tentang masalah mereka, peran gue bukan sekedar menjadi pendengar yang baik. Gue ikut mikirin kira-kira solusi apa yang bisa jadi jalan keluar. Padahal katanya orang yang lagi curhat biasanya memang cuma perlu didengerin aja. Tapi gue nggak bisa kaya gitu. I care too much to just be a good listener. Buat gue, kaya jadi tanggung jawab moral aja untuk ikut mikirin pemecahannya harus seperti apa.

Hari ini, satu orang lagi yang bilang gue terlalu peduli. Terlalu mikirin hal yang seharusnya nggak perlu diributin, something that is beyond my control.  Apalagi kalau hal yang diperjuangkan itu nggak ada benefitnya buat gue secara lagsung. Istilahnya, untuk apa ngeributin sesuatu yang cuma bikin capek pikiran dan apapun hasilnya nggak pengaruh sama kehidupan gue?

Sampai batas apa ya kepedulian itu menjadi terlalu dan menjadi salah? Dari dulu gue percaya kalau mengerjakan segala sesuatu harus dengan hati, harus berangkat dari kepedulian. Dan gue memang yakin, kalo kita pakai hati, hasilnya akan lebih baik. Kalo kita nggak melibatkan hati dan perasaan, bukannya semua hanya akan jadi rutinitas? We will only do something because we have to, not because we want to. Kalau kita nggak peduli, yang kita lakukan jadi hambar rasanya.

Benefitnya buat gue apa? Mungkin nggak secara langsung ke kehidupan gue, but the fact that I do my everything, buat gue sudah cukup. Knowing that gue sudah menolong dan melakukan semua hal yang gue bisa dalam kuasa gue, bisa bikin gue bobo dengan nyenyak.  Of course I do care about the end, but if that’s something beyond my control, then my fight on the way is enough.

Katanya, elo bisa ngerasain sebel atau suka sama suatu hal kalo elo peduli. Iyalah, kalo lo nggak peduli, ya elo gak akan merasa apa-apa. The fact that gue masih bisa kesel, berarti memang ngebuktiin bahwa gue masih punya hati. Sh**t… I hate that fact.

Post to Twitter

A Cup of Tea

Catatan Tentang Liburan

May 22nd, 2009

Gue baru aja balik dari liburan. Selama 5 hari, gue dan temen-temen gue menghabiskan waktu di Bali. Segeeeerrrrr rasanya… kaya batere baru di re-charge.

Seorang temen gue yang gak ikutan liburan nanyain kita pergi kemana aja. Gue bilang, sekitaran Kuta, Legian, Seminyak, Uluwatu dan Ubud. Komentarnya temen gue,” deket-deket ya? 5 hari disana kok lo nggak pergi ke tempat-tempat yang agak jauh? lagian, kebanyakan tempat yang lo datengin kan udah pernah lo datengin juga waktu liburan tahun lalu …rugi kan, mending ke tempat yang jauh-jauh sekalian…” Pandangan temen gue yang seolah-olah ’sangat menyayangkan’ cara gue berlibur bikin gue ketawa.

To be honest, kalo untuk gue, mengunjungi tempat baru adalah added value dari liburan. Maksudnya, kalau dapat syukur, kalau nggak juga nggak masalah. Inti dari liburan itu bukannya tempatnya, tapi suasananya. Yang gue cari adalah rehat sejenak dari segala macam rutinitas hidup. Kalau itu harus dilakukan di tempat yang tidak baru, ya nggak apa-apa.

Gue suka dengan suasana liburan dimana gue bebas bangun siang. Pergi tanpa rencana yang pasti dan bisa berubah sesuai dengan mood. Setelah setiap hari lo diharuskan bangun pagi untuk ke kantor dan mengikuti schedule yang sudah dibuat, kelonggaran seperti itu menjadi suatu kemewahan lho. Makanya kayanya gue nggak akan cocok liburan dengan ikut paket wisata yang semuanya sudah diatur jadwalnya.

Tipe orang mungkin beda. Temen gue yang tadi akan lebih cocok dengan liburan yang lebih eksplorasi tempat-tempat baru. Ada orang yang lebih menyukai paket wisata karena sudah teratur. Kalo buat gue, it’s the atmosphere that matters. The feeling that you live off schedules, that you own the day, that’s what makes a vacation for me!

Post to Twitter

A Cup of Tea