Archive

Archive for April, 2009

Just A Scrap

April 29th, 2009

Life is never easy. Sometimes you got what you want, sometimes you don’t.

Sometimes you got what what you need but not what you want, and

sometimes you got what you want but not exactly what you need.

 

And this phase I’m in, I wonder what time it is that I have now. Is it

something I need, though I don’t want it? Or vice versa?

 

All hell is about to break loose….

 

Well, never mind me.. I’m just a bit confused, I guessed

Post to Twitter

A Cup of Tea

Belajar Dari Lego – The Grand Plan

April 11th, 2009

Kenal mainan Lego kan? Balok-balok plastik kecil yang bisa disusun untuk jadi apa saja. Ini mainan favorit gue sejak masih anak-anak. Waktu masih kecil banget, gue menggigiti balok-balok Lego sampai sompel-sompel. Begitu agak gedean dikit, gue baru tahu kalo benda warna-warni itu bukan untuk latihan gigit, tapi untuk disusun menjadi sebuah bentuk yang lebih besar. Yang pernah baca buku Sophie’s World atau Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder pasti ingat kalo Lego dijuluki mainan paling cerdas di dunia, karena karakteristiknya yang bisa menyesuaikan diri dan menjadi apa saja.

Dulu gue biasa main Lego sama temen-temen gue. Kita gabungin semua balok yang kita punya dan rame-rame membentuk apa yang kita mau. Biasanya gue nggak tahu apa yang mau gue buat dari awal. Gue simply mengambil balok-balok yang deket gue, menyusunnya secara horisontal, vertical, upside down, dan cara lain yang kepikiran saat itu. Setelah selesai, baru gue lihatin si bentuk jadi dan berpikir, ‘ini apa ya?’ Hehe… dengan cara seperti ini, gue pernah membuat ‘Keong Emas Taman Mini’sampai ‘Markas Voltus’

Setelah dewasa, gue menyadari bahwa kebiasaan gue main Lego seperti itu ternyata disebabkan pola pikir tidak berkonsep. Gue tidak biasa melihat gambaran besar sejak awal. Yang gue lihat adalah bagian-bagian kecil, tidak pernah ‘the grand plan’ itu sendiri. Jelekkah? Hmmm…put it this way. Pola kerja atau pola pikir gini membuat kita memikirkan hal-hal kecil, tanpa bisa melihat hubungan diantaranya. Kita nggak bisa menerjemahkan keterkaitan antara satu balok dengan balok lainnya. Dan kalau sudah begini, mungkin saja kita memilih bagian kecil yang tidak perlu, yang tidak mendukung the grand plan itu. Balok Lego yang sudah kita pilih, mungkin ternyata nggak bisa dipakai. Kalau sudah gitu, kan jadi nggak efisien ya, kerja kita untuk membangun bentuk besarnya.

Dari Lego, gue belajar untuk melihat segala sesuatu secara utuh. Detail memang penting, tetapi keseluruhan konsep yang membungkus detail itu harus fixed dulu sebelum kita berpikir mengenai detail. Di kantor, yang pernah satu team sama gue mungkin sampai bosen ngedengerin gue ngomong, “jadi flow cerita presentasi lo apa?” tiap kali kita ngediskusiin materi presentasi buat klien. Buat gue, don’t bother giving me all the details if you don’t know your story line yet. Karena gue nggak mau melihat potongan-potongan, gue mau tahu dulu apa benang merah yang menghubungkan semuanya. Habis itu baru kita bicara detail.

Terus terang, gue pun sebenernya masih dalam tahap belajar untuk selalu melihat the grand plan ini. Satu hal yang gue tahu, terkadang untuk mampu melihat keseluruhan hubungan kita harus melihatnya dari jarak yang agak ‘jauh’. Kalau terlalu dekat, lagi-lagi kita akan terekspos terhadap hal-hal kecilnya saja, tanpa bisa melihat skema utuhnya. Kadang gue pikir, itu kenapa kita nggak boleh nonton TV terlalu dekat… hehe.. Selain ngerusak mata, kalau kedeketan nanti yang kita lihat cuma titik-titik semut yang nggak beraturan. Padahal kalo nontonnya agak jauh, lo bisa dapet gambar yang utuh dan jelas, yang dibentuk dari si semut-semut tadi. Itu juga kenapa kita perlu curhat ke orang lain tentang masalah kita. Karena ketika kita terlibat langsung, kita mungkin hanya akan melihat potongan-potongan masalah, tanpa tahu keseluruhan drama.

Bukan begitu?

Post to Twitter

A Cup of Tea