Archive

Archive for February, 2009

Film-film Yang Paling Berpengaruh — Buat Gue

February 27th, 2009

The Sound Of Music
Gue nonton film ini dari gue seumur Gretl (anak kapten Von Trapp yang bungsu) sampai sekarang gue rasa gue udah lebih tua dari Maria J. Musiknya bagus dan abadi, dan menjadi salah satu DVD yang pengen gue beli versi originalnya.

Indiana Jones
Film ini membuat gue pernah sangat ingin menjadi arkeolog. Kayanya keren banget gitu, jalan-jalan, menyelidiki sejarah suatu masyarakat, menemukan harta karun, sambil sekali-sekali dapat pacar dari perjalanan itu..hihi..

When Harry Met Sally
Gue penggemar romantic comedy dan film ini menurut gue adalah raja diraja untuk komedi romantis! Film ini punya semua elemen yang gue suka : persahabatan, cinta, Meg Ryan, musik jazz untuk soundtrack, Harry Connick Jr, dan New York dan Central Parknya. Keren abis. Saking seringnya gue nonton, seandainya filmnya diputar dan soundnya dimatikan, gue bisa mengisi dialognya! Hapal, man! Satu kutipan yang gue ingat dari film ini : “When you realize you want to spend the rest of your life with someone, you want the rest of your life to start as soon as possible”.
Ain’t it sweet?

Ocean’s Eleven
Kalau ada yang bisa mengalahkan kesukaan gue terhadap film komedi romantis, itu adalah kesukaan gue terhadap film tentang manajemen kejahatan pencurian (hmmm, bener nggak sih ini istilahnya?). Gue hobi berat memperhatikan bagaimana suatu kejahatan, dalam hal ini pencurian, direncanakan. Gue suka saat sang pemimpin rencana memilih orang-orang yang menurut dia cocok untuk untuk tugas tersebut. Melihat bagaimana setiap langkah direncanakan dengan detail, sampai ke perhitungan detik, menurut gue sangat hebat. Dan Ocean’s Eleven menurut gue adalah salah satu film keren itu. Sebenernya masih banyak yang lain yang juga gue suka, misalnya Italian Job, Mission Impossible (yang TV series ya, bukan yang Tom Cruise), The Entrapment, If Tomorrow Comes-nya Sidney Sheldon.

Ada Apa Dengan Cinta
Terserah deh ya kalo ada yang mau guling-gulingan ketawain gue juga nggak apa-apa, tapi menurut gue, film ini adalah salah satu milestone kebangkitan film Indonesia. Gue suka karena menurut gue, chemistry antar pemain di film ini berasa banget. Gue bener-bener ngerasain persahabatan Cinta dan teman-temannya, gue bisa ngerasain taksir-taksirannya Rangga dan Cinta, karena aktor dan aktrisnya bisa ngeluarin chemistry tersebut. Nggak heran persiapan dan workshop para pemainnya makan waktu yang nggak sebentar (menurut cuplikan behind the scene-nya).

Gimana dengan film lo?

Post to Twitter

Review

My Funny Valentine

February 17th, 2009

14 Februari tahun ini gue habiskan dengan menghadiri acara-acara alternatif. No candle light dinner, no flowers and no chocolate covered candy heart to give away… hehe, jadi kaya Stevie Wonder.

Di siang hari gue datang ke acara diskusi yang diadakan sebuah milis mengenai akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). In case the term is unfamiliar to you, ABK ini contohnya tuna netra, tuna rungu, dan anak-anak dengan keterbatasan lain, baik mental maupun fisik. Acara gue kelihatan mulia sekali ya? Hehe… sejujurnya, alasan pertama kenapa gue datang adalah untuk mendukung temen gue, yang jadi moderator di acara diskusi tersebut. Tapi di tengah acara, gue terkesan dengan salah satu nara sumber yang memiliki keterbatasan dengan penglihatannya. Namanya Mimi Lusli. She’s famous, you know. Coba aja google namanya, akan ada banyak sekali link yang menyebutkannya.
Mbak Mimi mengalami penyakit mata (sayang gue lupa nama penyakitnya), dimana dia kehilangan penglihatannya secara perlahan-lahan. Dia kehilangan 100% penglihatannya di umur 17 tahun. What a sweet-seventeen birthday it was!
Mbak Mimi berbagi pengalamannya mendapatkan akses pendidikan. Walaupun punya keterbatasan di penglihatan, Mbak Mimi nggak pernah sekolah di sekolah khusus. Dia masuk SMA regular (whatever the term ‘regular’ refers to), kuliah di perguruan tinggi dan mengambil pendidikan keguruan. Berhubung semuanya adalah kelas regular, maka fasilitas untuk ABK seperti Mbak Mimi masih sangat terbatas. At least pada saat itu ya.
Kebayang nggak, ketika dia kuliah, kalau ada tugas, kerjaan Mbak Mimi menjadi tiga kali lebih banyak dari teman-temannya yang lain. Pertama, dia harus memastikan halaman di buku yang menjadi tugas dan meminta seorang teman untuk membacakan halaman-halaman tersebut, karena bukunya adalah buku referensi biasa, bukan buku braille. Kemudian dia akan membuat tugas tersebut dalam huruf braille, karena huruf-huruf tersebut yang aksesibel untuk Mbak Mimi. Terakhir, dia harus meminta seseorang untuk menerjemahkan tugas dalam huruf braille tersebut ke dalam huruf latin. Ya kan dosennya Mbak Mimi bisanya baca huruf latin.
Terus kalo giliran ujian yang nggak take home test alias harus dikerjakan di tempat, bagaimana? Nah, Mbak Mimi belajar mengenal dan memakai mesin tik. Jadi, kalau ujian yang on the spot, dia siap dengan mesin tiknya dan mengetikkan jawabannya di kertas. Ini terutama berguna kalau ujiannya multiple choice. Tahu nggak, Mbak Mimi cerita, awalnya kalau ujian dia dan mesin tiknya biasa duduk paling depan di kelasnya. Lama-lama, dosennya curiga, karena mahasiswa yang lain kok suka larak-lirik. Ternyata ketahuan, kalo Mbak Mimi DICONTEKIN! Karena dia pakai mesin tik, jadi mahasiswa lain bisa dengan bebas melirik kertas jawabannya. Gila ya, mahasiswa-mahasiswa itu ! Kok ya nggak tahu malu banget sih! Bukannya bersyukur dikasih penglihatan yang bagus, eh malah dipakai buat ngelirik nyontek dari ABK! Akhirnya Mbak Mimi dipindahin duduknya, jadi paling belakang. Temen-temenya jadi nggak bisa nyontek lagi deh..hehe..

Gue terkesan sama usahanya Mbak Mimi. Keterbatasannya nggak membut dia menuntut perlakuan yang berbeda. Instead, dia menyesuaikan diri dengan lingkungan yang saat itu belum terlalu mendukung keterbatasannya. Of course she would love to have all the supporting facilities if it was available back then, tapi ketika fasilitas itu nggak ada, ya dia berusaha untuk menciptakan cara lain yang mendukung. Nggak semua orang punya semangat juang seperti itu. Ada orang yang kerjanya hanya menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang lain. Bangun kesiangan, nyalahin weker yang gak bunyi. Terlibat obat terlarang, nyalahin lingkungan dan temen-teman yang ngenalin. Kaya nggak pernah dikasih kesempatan memilih aja.

Well, that’s a hell of a long writing…J Thanks buat Mbak Mimi untuk penyadarannya, thanks buat Fitri yang udah ngundang gue ke diskusi.

(Oh iya, malamnya gue ke EX karena ada festival musik indie. Gue nonton PURE SATURDAY!.. Untuk ini gue nggak perlu tulis panjang. Satu kata aja, PECAAAHHHH!!!!!)

Post to Twitter

A Cup of Tea

Spoiler? Silakan….

February 5th, 2009

Kemarin gue bikin ade gue agak bete waktu gue nggak sengaja menceritakan akhir dari film Slumdog Millionaire. Soalnya dia dan istrinya baru rencana mau nonton minggu depan. Gue juga belum nonton sih, cuma udah tahu jalan dan akhir ceritanya gimana. Mau gue ceritain nggak? Hehe…

Kejadian itu mengingatkan gue sama dua tahun yang lalu, tepatnya Juli 2007. Waktu itu, buku Harry Potter seri ke tujuh alias seri yang terakhir, dirilis. Penggemar-penggemar Harry Potter di seluruh dunia sampai bela-belain antri di malam launchingnya. Tujuannya supaya bisa segera dapat buku itu dan segera baca untuk tahu bagaimana akhir pertarungan dari Harry dan Lord Voldemort. Yang ternyata berakhir dengan Lord Voldemortnya ternyata gay….. hmmm… nggak, salah, itu Brokeback Mountain. Oh bukan, ternyata Harry dipaksa nikah sama istri pilihan orang tuanya….., tunggu dulu, itu sinetron Rafika di RCTI… Yeah well, sudahlah, semua orang tahu kok gimana akhir Harry Potter.
Anyway, keesokan harinya setelah hari launchingnya, semua orang yang sudah baca buku itu seolah berlomba-lomba untuk menjadi spoiler alias ngebocorin akhir cerita ke mereka yang belum baca. Dari yang frontal dengan ngobrolin sesama yang udah baca dengan keras-keras, sampai yang pakai cara halus dengan masang status YM sebagai sarana spoiler. Seorang temen gue sampai sebeeeelll banget dan sampai nggak mau sign in YM-nya buat hari itu (yang akhirnya nggak ngaruh karena dia terima spoilernya lewat SMS.. haha).

Gue sendiri termasuk orang yang nggak pernah terganggu dengan para spoiler. I don’t mind at all. Dalam kasus Harry Potter, gue nggak keberatan karena gue nggak bisa menghindar. Soalnya gue baru akan beli buku Harry Potter yang versi paper back, which biasanya baru keluar setahun setelah hard covernya rilis. Nggak mungkin tokh, gue menjauhi dunia selama setahun cuma supaya gue nggak denger spoiler. Tapi in any case, buat gue sama sekali nggak masalah kalo orang cerita sama gue tentang akhir sebuah buku atau film yang belum gue selesain. Karena buat gue, membaca buku atau menonton film itu lebih dari sekedar pengen tahu endingnya gimana. Gue lebih menikmati proses baca atau nontonnya itu sendiri. Membaca atau menonton film adalah satu kesatuan dari awal, tengah hingga akhirnya. So what kalo gue udah tahu akhirnya? Gue kan masih kan tetap menyukai halaman-halaman atau adegan-adegan yang membawa kita kepada ending tersebut. The ending is just a part of the whole process. Malah gue merasa ada keuntungannya kalau gue udah tahu duluan akhirnya gimana. Soalnya gue nggak penasaran lagi dan gue bisa lebih memperhatikan detail-detail lain yang ada di buku tersebut. Kalo penasaran sama akhirnya, gue akan baca atau nonton dengan ngotot, supaya bisa cepat selesai. Jadinya gue mungkin akan melewatkan beberapa hal yang menarik dalam prosesnya. Ini terbukti waktu gue nonton film The Ring yang versi Jepang. Saking takut dan pengen banget tahu akhirnya gimana, sampai sekarang kalau ditanya kenapa si anak awalnya mati penasaran, gue nggak akan ingat.
Jadi sekali lagi, spoiler nggak ngaruh untuk gue. It’s the process that matters most. Percuma kalo orang mikir bisa ngerusak mood gue dengan ngebocorin ending cerita. Spoiler tuh lebih ke urusan moral. Yah apa sih pentingnya bikin sebel orang dengan nunjukin elo tahu sesuatu yang mereka belum tahu, walaupun eventually mereka akan tahu hal itu juga? Lebih dari itu, you can tell me endings about any book or any movie at all, and I will only say ‘Thanks’. Oh iya, sampai sekarang gue nggak tahu akhir cerita film ‘Kill Bill vol.1’, habis ketiduran melulu tiap kali filmnya diputar di TV.

Post to Twitter

A Cup of Tea