Archive

Archive for January, 2009

Betapa Kecilnya Dunia! (Part Two)

January 29th, 2009

Kejadian kedua yang behubungan dengan kecilnya dunia gue alamin pas makan siang sama temen kantor gue.

Teman gue (TG) : “lo masih tinggal di kompleks XXX itu, vin?”
Gue : “iya. kenapa?”
TG : “nggak apa-apa, mantan gue tinggal di kompleks itu juga. Jalannya kan masuk kompleks, terus diujung jalan ada mesjid gede, kan?”
Gue : “iya, kalo ke rumah gue, ketemu mesjid itu belok kiri”
TG : “eh, mantan gue juga rumahnya belok ke kiri”
Gue :”heh? Gue lumayan kenal anak-anak daerah situ. Mantan lo siapa?”
TG : (ragu-ragu dan nggak mau sebutin nama) “mmm… nggak ah, pokoknya rumahnya di sebelah kiri jalan, pas di tikungan”
Gue : “iiihhh…. Anak Trisakti bukan?”
TG : (mulai panik) “ ii..yaa… anak Mesin”
Gue : (semangat mengejar informasi) “kakaknya cewek kan? Dulu keluarganya pernah tinggal di kota X? bokapnya namanya Pak Blablabla? Itu mah gue dan keluarga gue kenal banget!”
TG : (tambah panik) “aduuhh.. gue nggak tahu kalo soal ortunya. Nggak tahu juga pernah tinggal di kota mana”
Gue : (terus menyecar)”kakaknya anak Trisakti juga?”
TG : (terlihat sedikit lega) “hehe, bukan..”
Gue : (sedikit kecewa) “yah.. bukan yang gue maksud dong”
TG : (nyengir) “ bukan. Soalnya kakaknya mantan gue kuliahnya di UI”
Gue : (kembali tegak) “jurusan? Angkatan?”
TG : (kembali agak panik) “… arsitektur… sembilan sekian”
Gue: “AHAAAA!!!!” (penuh kemenangan dan muka gosip, karena gue dari kampus dan jurusan yang sama)
TG : (sangat panik) “UDAH AH!”

Post to Twitter

A Cup of Tea

Betapa Kecilnya Dunia! (Part One)

January 29th, 2009

Hari ini gue mengalami dua kejadian yang membuktikan kalo dunia itu kecil banget. Apapun yang terjadi di masa lalu lo, somehow akan berhubungan dengan masa sekarang Kejadian pertama pas gue meeting di kantor klien. Waktu udah selesai dan pamit pulang, gue kasih kartu nama ke sang klien. Begitu dia lihat nama gue, klien gue nyeletuk, “ih.. namanya Yuna ya, sama deh sama temannya kakakku dulu”
Gue masih dengan cuek dan santai, sambil ngeberesin tas, nanya iseng, “oh ya? kakaknya siapa namanya? Jangan-jangan gue kenal” Becanda tentunya. Klien gue melanjutkan, “kakakku namanya Mita”. Ding! Ingatan gue langsung melayang ke zaman SMP, dimana gue memang punya teman yang namanya Mita. “Mita siapa?” Gue langsung serius,”Mita Susilowati?”
Klien gue mengangguk. Gue langsung histeris, “ya ampuuuunnnnnn….. kamu adeknya Mita? Kalian tinggal di XXX kan? Sekarang Mitanya tinggal di Bandung kan?” Klien gue terus mengangguk, “iya, iya, tapi Mita udah di Jakarta sekarang dan kita sekeluarga juga udah nggak tinggal di XXX lagi”. “adduuhhhh kecil banget ya, dunia… eh, tapi ngomong-ngomong kok bisa ingat sama aku sih?” gue nanya dengan pe-de. “err… iya, dulu Mita suka cerita-cerita tentang Yuna, makanya aku inget namanya”, kata klien gue. Sampai disini gue masih seneng, sampai akhirnya teman gue yang ikutan meeting mengingatkan, “wah, kalo sampai adeknya temen bisa inget sama lo, berarti cerita tentang lo harusnya cukup heboh tuh di keluarganya dia. Mudah-mudahan sih cerita baek, ya”. OH, NO!

(Untuk melindungi privasi orang-orang, semua nama di post ini sudah disamarkan, kecuali nama gue :) )

Post to Twitter

A Cup of Tea

Berbisnis Kaos a.k.a The Launching of Zippykidz

January 20th, 2009

Gue dan dua orang teman gue, Prima dan Irma, memutuskan untuk mencoba-coba berbisnis kaos anak sekitar akhir tahun lalu. Well, awalnya sih Prima dan Irma yang punya konsep dan gue minta diajak ikutan..hehe…

Setelah melalui proses produksi yang cukup seru, karena kedua teman gue itu sempat menembus lorong-lorong perumahan kumuh di sekitar Tanah Abang untuk mencari bahan kaos yang sesuai, akhirnya kita siap launching. Terima kasih Tuhan, ternyata ada event yang tepat untuk launching ini. FISIP UI Fun Fair 2009 membuka jalan. Dengan menumpang stand mamanya Prima (terima kasih ya, Tante Pui dan Nay’s accessories J), kita bersiap untuk tampil di bazaar, yang juga akan jadi launching Zippykidz.

07.05

Gue terima SMS dari Prima. Dia sudah di lokasi dan lagi siap-siap. Gue sendiri sedang di jalan. Untuk event ini, gue bawa keluarga lengkap. Nyokap, adek gue, ipar gue dan ponakan gue yang baru berumur 2 tahun.

08.00

Gue sampai di lokasi. Tempat bazaarnya di lapangan parkir depan FISIP UI. Stand buat kita lumayan strategis, karena dekat pintu masuk. Prima dan adiknya sedang mengatur display yang dirancang dengan konsep…jemuran..hehe.. Jadi, kaos-kaos itu kita gantung di tali rafia dan talinya direntangkan dari tiang stand satu ke tiang lainnya. Beneran kaya jemuran. Apalagi setelah gue tambahin jepitan yang fungsinya sebenernya buat menahan supaya si kaos tetap terpajang dengan baik.

08.30

Prima cabut. Dia nggak bisa ikutan jaga stand karena harus dateng ke acara Open House (calon) sekolah anaknya. Irma dateng dengan membawa setumpuk stok kaos lain. Berhubung lagi hamil, dia cukup niat dengan membawa kursi lipat plastik sendiri. Jaga-jaga in case nggak disediain tempat duduk, katanya. Gue sempat berdoa, “Ya Allah, kasih kami kemudahan dalam usaha.”

Lokasi bazaar masih sepi, walaupun MC di panggung sudah mulai berkoar-koar.

08.50

We sold the first piece! Seorang mbak manis (pastinya) menjadi pembeli pertama kaos Zippykidz! Yippieee…. Gue langsung SMS Prima dan ngebilangin berita bahagia ini. Lebai?? Biariiiinnnn…

09.00

Irma dan gue berbagi tugas. Gue ngurusin pembayaran, Irma ngurusin pencatatan stok. Belajar dari apa yang gue alami kalo belanja di ITC, gue berdiri di depan stand, mengundang pembeli masuk sambil senyum dan menyapa, “silakan, Kak, dilihat dulu. Ada ukurannya lho, Kak” SPG abis deh pokoknya.. Mungkin kalo ada yang mau sewa gue buat jadi SPG di weekend, gue mau tuh..hehe..

09.15

Keponakan gue yang super aktif itu gue endorse dengan kaos Zippykidz. Di punggungnya gue tempelin brosur Zippykidz yang ada tulisannya gede-gede ‘SALE’. Terus gue bilangin ke ponakan gue,”Nua, lari-lari sekitar sini ya. Terus teriak ‘kaos,kaos’.. oke??”. Ponakan gue mengangguk dan teriak “Caos, Caos”. Hmmm, bolehlah. Walaupun gue sempet kuatir orang akan nyangkain kita jualan saos tomat.

09.30 sampai 17.00

The T-Shitrts was sold one by one. Gue dan Irma sampai kegirangan sendiri. Nggak tahu sih apakah ini termasuk penjualan yang cepat atau lambat, soalnya kan kita belum punya perbandingan sama sekali. Yang jelas, penjualan hari itu melebihi dari target yang kita set. Kebayar deh, pegel-pegel jagain stand dan keringetan seluruh badan. Hehe… Prima yang balik lagi pas sore juga cukup heran bahwa kita bisa dapet target penjualan hari itu.

All in all, capek pastinya… tapi gue belajar banyak hari itu. Tentang persiapan launching usaha, tentang pelayanan terhadap pengunjung dan tentang follow up setelah launch. Agak kepanjangan kalo gue tulis semuanya di postingan ini. Lain kali, gue mungkin akan buat posting sendiri mengenai key learning dari launching usaha kecil kami. In the mean time, minta doanya yaaa… untuk kelangsungan Zippykidz… :)

Post to Twitter

Zippykidz

Gue Dan Klakson

January 16th, 2009

Dari semua suara yang gue tahu, gue paling tidak suka dengan suara klakson kendaraan bermotor. Sebel banget rasanya tiap kali gue denger ada yang ngebunyiin klakson. Bunyinya itu loh, bikin pekak kuping. Bahkan waktu zamannya klakson yang (katanya) gaul, yang bunyinya agak mendem, ternyata gue tetap nggak suka mendengarnya.

Selain suaranya yang nggak enak di telinga, ada alasan lain kenapa gue nggak suka dengan klakson. Menurut gue, klakson itu identik dengan penanda hal-hal jelek. Nggak pernah menandakan sesuatu yang baik.

Coba deh ingat-ingat, kejadian apa aja yang bikin kita membunyikan klakson? Pertama ketika kita rem mendadak. Kita lagi jalan stabil, tiba-tiba harus nge-rem mendadak, nah biasanya sih akan diikuti tindakan ngebunyiin klakson secara panjang dan lama. Meaning? Something is happening in the middle of the road, right? Bisa jadi tiba-tiba ada motor jatuh, ada orang yang tahu-tahu nyebrang, atau ada mobil yang tiba-tiba menyalip dengan brutal. Intinya, si klakson memberi tanda kalau ada hal jelek yang sedang terjadi.

Atau ketika lagi antri lampu merah. Ketika si lampu udah hijau, kalau sampai kedengeran tuh suara klakson mobil, berarti ada sesuatu. Bisa jadi ada mobil yang nggak bergerak, sehingga orang-orang dibelakangnya membunyikan klakson mereka. Sesial-sialnya, si mobil yang nggak bergerak ternyata mogok. Nah, another bad thing indicated by the horn, right? Bahkan dalam hal yang paling simple, klakson bisa menandakan prilaku jelek si pengemudi yang nggak sabaran jadi maen tat-tet-tot seenaknya.

Menjelang kampanye pemilu seperti ini, sepertinya kesebelan gue akan bertambah kadarnya. Kebayang kan salah satu hal yang paling sering dilakukan konvoi mobil kampanye? Yap, betul. Membunyikan klakson berulang-ulang sepanjang jalan, sekencang-kencangnya. Padahal semua nadanya sama, which means nggak bisa bedain juga kalo dari klakson partai mana yang lagi kampanye. Eh, atau seharusnya gue usulkan aja seperti itu ke partainya ya? Jadi mereka akan tertantang untuk menciptakan nada-nada yang khas dari klakson, yang bisa jadi ciri untuk ngebedain dari yang lain. Hehe… that will do. Nggak akan menghapus kesebelan gue mendengar suara klakson sih, tapi paling nggak gue jadi akan lebih konsentrasi menebak siapa yang lagi kampanye dari nada klaksonnya!

Post to Twitter

A Cup of Tea

The So-Called Resolution

January 12th, 2009

Masuk tahun 2009, seperti tahun-tahun selanjutnya, orang rame-rame buat resolusi. Gue denger di radio, berdasarkan survey ada 5 resolusi yang paling umum dibuat oleh kaum perempuan (kenapa yang disurvey perempuan, no idea! mungkin karena perempuan lebih banyak maunya dari laki-laki?). Lima resolusi itu adalah :

1. Karir atau kerjaan yang lebih baik

2. Lebih pandai membagi waktu

3. Lebih rapi mengatur barang

4. Cari jodoh (suprisingly ada di urutan ke -4! Gue pikir bakalan ada di no.1)

5. Lebih sering olahraga. Ha!

Gue sendiri udah hopeless untuk urusan resolusi nomor dua dan tiga. You could check with my mom for that. She’s been nagging me on how I should put my things in order for as long as I can remember.

Whatever the resolution is, gue belajar satu hal. Kalau mau tercapai, kita harus menerapkan prinsip S.M.A.R.T. Itu singkatan dari Spesific, Measurable, Actionable, Realistic dan Time-bound. Gue lupa dapet darimana istilah ini. Ada yang bisa ingetin nggak? Anyway, kalo cuma ‘gue pengen langsing’ itu bukan resolusi yang SMART. Berdasarkan hal itu, maka gue menerjemahkan resolusi langsing gue menjadi “berat badan harus turun 3 kg, lingkar pinggang turun 5 cm, dengan batas akhir Maret 2009″. Nah kalo kaya gini, jadi lebih jelas kan tujuan akhir dan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya.

Sehubungan dengan langsing-langsingan dan resolusi cewek paling umum yang no. 5 (Olahraga), gue perhatiin memang tempat fitness biasanya lebih penuh kalo awal tahun. Yang biasanya dengan santai sore ke gym terus langsung bisa treadmill, sekarang ternyata udah penuh dan harus ngantri. Tapi coba deh nanti kalo udah bulan Maret. Tempat fitnessnya akan kembali sepi..hehe… Disitu pentingnya ‘Time-bound”. Kalo kita buat target resolusi per quarter, misalnya, akan lebih mudah dan cepat me-review usaha yang kita lakukan untuk mencapai target. Jadi selain tujuan jangka panjang, ada juga tujuan jangka pendeknya, gitu lho.

Mumpung belum terlambat (hey, kan masih ada tahun baru Imlek dan Saka, belum terlambat dong :) ) hayo, mari membuat resolusi yang SMART!

Post to Twitter

A Cup of Tea