Archive

Archive for the ‘A Cup of Tea’ Category

The Story of A Man

August 24th, 2010

Here’s the story of a man
In search of his true happiness
What he went through for the love he craved for

He flew across the ocean
Chasing the love he thought he knew
He found the ocean sank his love down

He stood still
Bleeding, but stood still

On the beach he gathered seaweeds
By which he spelled his lover’s name with
and a question he dearly asked
for the girl to be his one and only
when things went to another direction
He stood still
Hurt, but stood still

In a remote island he insisted of pen and paper
Scribbing down his feeling of love
Let the night be the witness
of a hope sent out to the air
when the hope remained his and not hers
He stood still
Aching, but stood still

Never did he regret what he’s done
For he knows love could never be a wrong reason
Believe in someday, a true person for him will show
And gratefully embraced him as her missing someone

Post to Twitter

A Cup of Tea

Why The Bad Is More Interesting

August 13th, 2010

Dalam satu cerita, bisa film, buku, drama atau sinetron, seperti apa pun ceritanya, biasanya akan ada dua penokohan kontras, yaitu si Baik dan si Jahat. Orang seringkali salah kaprah menyebut si Baik dengan sebutan Protagonis dan si Jahat dengan Antagonis. Kenapa salah kaprah? Gue pernah baca, arti Protagonis sebenarnya adalah tokoh yg menjadi sentral dan penggerak cerita, sedangkan Antagonis adalah tokoh yg menjadi lawan atau penentang atau kontra dari Protagonis. Jadi, kalau misalnya tokoh sentralnya jahat (misalnya di film mafia atau film tentang kehidupan perampok), ya Protagonisnya adalah yang jahat. Sedangkan si Antagonisnya adalah yg jadi si baik, misalnya polisi yg berusaha menangkap si perampok. Kalau mau tahu lebih banyak, silakan google aja ya mengenai protagonis dan antagonis ini.

Dalam kebanyakan cerita yang gue baca atau tonton, nggak tahu kenapa, gue cenderung lebih tertarik kepada tokoh jahat (terserah dia protagonis atau antagonis). Menurut gue, karakter mereka biasanya seru, karena si Jahat biasanya adalah si pengambil inisiatif .
Perhatiin deh, dalam kebanyakan cerita, masalah muncul karena adanya intervensi dari si Jahat terhadap keadaan yang tenang, damai, aman dan sentosa. Adanya ide di otak si Jahat membuat keadaan menjadi terguncang. Ini beda sama sifat si Baik yang biasanya adalah responsif terhadap apa yang sudah diperbuat si Jahat. Tokoh baik umumnya menerima akibat dari perbuatan si Jahat dan memperbaiki keadaan tersebut. Si Baik itu menanggapi, sementara si Jahat memulai J Jarang banget, tokoh baik menjadi inisiatif terhadap sesuatu yang besar. Contoh nih ya, dalam cerita Harry Potter. Kalau aja Lord Voldemort nggak bunuh orang tuanya Harry, nggak akan ada tuh Harry Potter yang terkenal itu. Hampir semua penjahat di film super hero adalah inisiator, sedangkan si Pahlawan justru muncul sebagai reaksi dari adanya aksi kejahatan. Istilahnya, nggak ada super hero kalau nggak ada villain-nya. Nggak ada Batman kalau nggak ada Joker, nggak ada Superman kalau nggak ada Lex Luthor, nggak ada Samson kalo nggak ada Delila (errrrr… yang terakhir boleh dicoret kok J).

Terus juga, tokoh Jahat kesannya lebih cerdas ketika menghadapi masalah. Nggak tahu kenapa, gue ngerasa ketika ketemu masalah, tokoh baik biasanya lebih banyak diselamatkan oleh keberuntungan, sementara tokoh Jahat biasanya selamat karena usaha mereka sendiri. Kesannya si Baik sangat tergantung pada balasan dari sifat baik mereka, sedangkan si Jahat harus benar-benar berpikir sendiri untuk keluar dari masalah mereka.. In short, jadi penjahat harus banyak akal, sementara kalau jadi yang baik akan banyak yang mau nolong. Bahkan cerita anak-anak mendukung hal ini. Cinderella punya Ibu Peri yang mau menyulap dia jadi puteri, tapi Drunela dan Barbeta, kakak-kakak tirinya, harus usaha dandan dan pilih baju sendiri waktu mau pergi ke pesta dansa.  Aladdin tiba-tiba dapat lampu ajaib berisi Jin yang bisa mengabulkan permintaannya, sementara Jafar yang jahat udah belajar sihir sendiri sejak lama dengan nggak ditolongin siapa-siapa. Bahkan di sinetron Cinta Fitri yang udah sampai season 6 itu, kita bisa lihat si baik Fitri selalu ditolongin orang, sementara Mischa yang nyebelin biasanya harus berjuang sendiri dalam melaksanakan ide jahatnya, termasuk memikirkan jalan keluar dari masalahnya J (Hidup Mischa!! Hahahahaha…)

So, begitulah. Seringkali gue menemukan tokoh jahat lebih menarik daripada tokoh baik. Dalam film The Dark Knight gue lebih suka karakter Joker dari Batman. Gue suka Scarlett O’Hara yang jadi tokoh sentral di novel Gone With The Wind, padahal dia egois dan manipulatif, dibanding Melanie Wilkes sepupunya yang super baik itu. Itu juga kenapa gue sukaaaa  banget sama film2 mafia, film tentang kejahatan pencurian (kaya Ocean Eleven atau Italian Job), atau film tentang balas dendam, soalnya kebanyakan tokohnya jahat, all is evil :). Dan juga kenapa gue percaya kalau ‘good girl doesn’t make history’ hahahahahahaha….

Post to Twitter

A Cup of Tea

Choosing Reality

April 30th, 2010

Beberapa hari yang lalu gue sempat mengupdate status twitter dan FB gue mengenai reality alias kenyataan dan pilihan kita. Pernah nggak dalam situasi berikut, liburan heboh menyenangkan, terus habis itu harus kembali ke rutinitas sehari-hari. Ya ngurusin kerjaan, bangun pagi, dimarahin dan lain-lain. Biasanya kalimat yang keluar adalah, ’fun is over, let’s go back to reality’. Penggambaran seperti itu membuat semua kesenangan yang dialami saat liburan seolah tidak nyata. Bahwa yang nyata adalah kerjaan sehari-hari yang numpuk untuk diselesaikan. Laporan-laporan yang deadlinenya bagaikan balapan untuk bikin elo stress. Atau saat lagi kumpul sama teman-teman, ngopi-ngopi santai, dan ngomongin hal-hal ringan yang menyegarkan, tiba-tiba ada yang nyeletuk, ’aahhh, kalo bisa kaya gini tiap hari, enak ya. Sayang kenyataannya gak gitu’. Lho??? Jadi, acara hang out sama temen-temen itu nggak nyata? Dan sebaliknya, berarti yang nyata adalah kesibukan super padat yang bikin kita nggak bisa napas itu?
Betapa nggak menyenangkan kenyataan alias reality itu kalau begitu. Dan betapa tertekannya kita kalo semua hal menyenangkan dalam hidup merupakan hal yang kita anggap nggak nyata. Hal yang nggak sepantasnya kita terima. Iya kan? Kalau kita anggap sesuatu nggak nyata, biasanya sih kita akan susah menerimanya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, menurut gue alien berbadan hijau dan kepala gede berantena itu nggak nyata. Jadi agak susah untuk gue menerima fakta atau apapun mengenai alien. Kalo suatu kali alien hijau itu muncul depan muka gue pun, mungkin instead of takut atau bingung, pikiran pertama yang muncul di otak gue adalah ’siapa nih yang iseng ngerjain gue pake kostum segala???” Kenapa contohnya alien? Ya biarin aja, itu yang kepikiran sama gue… haahahahaha..

Berdasarkan pemikiran itu, gue pun memutuskan. Gue akan MEMILIH realita gue sendiri. Gue menentukan, apa yang nyata dan pantas gue terima dalam perjalanan kehidupan gue, dan apa yang nggak nyata. Realita, buat gue harus sesuatu yang menyenangkan dan worth living, karena hal-hal yang nyata itulah pusat kehidupan gue. My center of existence. Saat ini, gue memilih bahwa realita versi gue adalah waktu berkumpul sama keluarga gue, saat nongkrong dan main sama teman-teman gue, waktu yang gue habiskan untuk melakukan hobi dan hal-hal yang gue sukai, seperti baca buku, nonton film, menulis, jalan-jalan liburan. Itulah realita gue. Those are the real things that I live for day by day. Hal-hal lain, seperti work load dan stress, adalah yang gue pilih menjadi yang ‘tidak nyata’ yang tetap harus gue jalanin dengan sebaik-baiknya. Tapi mereka dibangun di sekitar realita gue, bukan sebagai pusatnya. The unreal will still be there, karena gue membutuhkan mereka sebagai pembeda antara mana yang real dan mana yang unreal. Supaya gue selalu ingat kepada pilihan yang gue buat. Apakah suatu kali realita gue akan berubah? Bisa jadi. Karena selalu bisa ada hal baru yang muncul yang pantas untuk dijadikan realita. Atau hal yang mungkin nggak baru, tapi perannya berubah sehingga layak untuk dibuat jadi kenyataan. Tapi yang jelas, realita kita adalah pilihan kita.

So, what’s your reality?

Post to Twitter

A Cup of Tea

The Art of Forgetting

April 15th, 2010

It’s like…..

 

having a 64 GB memory on your computer, fully used

 

but only

 

a 486 processor (jeez! that’s old) …

 

so when you decide to delete all memories..

 

the process may take forever…

 

I ain’t no computer geek, but I think that’s the best comparison so far :)

Post to Twitter

A Cup of Tea

Kutipan

March 31st, 2010

Ini bukan tulisan gue, tapi tulisan Raditya Dika www.radityadika.com..

Gue kutip karena gue suka.. I love his reason of loving  her :)

So, I’m gonna make this ultra-simple,
the most primitive form of telling how I feel: “I love you”.
And I love being with you! I love your giggle, your silly grin, your energetic story-telling (with your hands waving aroud), your sharp bitchiness. I love our awkwardness when our hands meet, and the fact we act it cool.Oh and I love the way you walk, the way you dance, the way you sing (god, the way you sing make angels sound like Doraemon!) and how you apply your personality in a paste. I love the look in your eyes when you showed me those MJ videos, Bruce Lee interviews, those reflective eyes, longing for perfection, filled with deep thoughts and ambitions. The ambitions that I share. The way of thinking that I understand. The unconventional person, you are. You are the odd-shaped jigsaw puzzle that I’m looking to fit. And you completed me.

Thus, when they ask me: why do you love her?
I can safely say: what is not to love?

Post to Twitter

A Cup of Tea

Be Loud, Be Proud and Be Bold !

March 4th, 2010

“Air tenang biasanya menghanyutkan”
“Kalau tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu”
“Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin menunduk”

These are the lines which I held dearly in my life. Semuanya mengisyaratkan satu hal untuk gue, yaitu perlunya kerendahan hati. Ketika ada sesuatu yang baik dari elo, nggak usah dibesar-besarkan. Nanti jadinya sombong.

Tapi akhir-akhir ini gue mulai berpikir beda. Kenapa nggak kita ‘berisik’ tentang kehebatan kita? Kenapa kita harus diam-diam aja kalau kita berbuat sesuatu yang baik? Kapan seharusnya kita rendah hati dan kapan kita harus menepuk dada dan bilang,’hey, gue juga telah melakukan banyak hal dengan baik’? Apakah kita beneran akan dicap sombong kalo kita mengemukakan kelebihan-kelebihan kita?

I’ll tell you what. Selama kita berjalan di muka dunia, selama itu pula kita berada dalam pengamatan lingkungan. Pada akhirnya lingkungan ini akan memberikan cap kepada elo, apakah elo itu orangnya baik, jahat, pintar, bodoh, cantik, jelek, dan cap lainnya. Sayangnya lingkungan terkadang lebih cepat bereaksi terhadap hal-hal yang negatif. Ya udahlah ya, tayangan infotainment di TV sudah sering sekali membuktikan itu. Ketika artis A menang sebuah festival, liputannya akan lebih sedikit daripada artis B yang sedang terlibat pertengkaran dengan produsernya. Sesuatu yang negatif akan lebih mudah diingat dan biasanya bertahan lebih lama.

Nah, untuk mengimbangi kenegatifan itulah, kita harus mulai berkoar-koar mengenai sesuatu yang bagus yang kita lakukan. Let’s face it, kita semua pasti pernah melakukan kesalahan, pasti pernah punya flaw. Tapi kita semua juga pasti pernah melakukan suatu hal dengan benar. Supaya kita mendapatkan penilaian yang fair, maka semua hal negatif dan positif seharusnya dilihat secara keseluruhan. Kalau kita memilih untuk rendah hati alias kalem-kalem aja dengan tidak mengekspos hal-hal baik kita kepada lingkungan, suatu kali ketika kita melakukan kesalahan, maka kesalahan itu akan diangkat dengan tinggi dan menutupi semua kebaikan kita yang lain. In the end, kita akan dicap jelek. Padahal cap itu mungkin didasarkan hanya pada penilaian sebagian saja. Terus terang, gue dulu pernah sebel sama seorang teman, karena menurut gue dia show off banget akan kemampuannya. Tapi di kemudian hari gue tahu, that person was being loud and proud karena terlalu sering dicap negatif karena suatu kesalahan di masa lalunya. Dia merasa harus nge-balance semua itu dengan menyebarkan kelebihan-kelebihan yang dia punya, yang mungkin kurang disadari sama orang sekitarnya.

Jadi, jangan lagi menyimpan sendiri semua kebaikan dan kehebatan yang pernah elo lakukan. Bagilah ke orang-orang, apa aja kehebatan lo. Menurut gue normal-normal aja kok kalo, misalnya, sekali-sekali kita ngomong,
”eh, gue bisa kok selesain proyek itu. Dulu gue udah pernah buat dan responsnya bagus,” atau
”gue kemarin ketemu mantan murid gue dan gue terharu banget waktu dia bilang gue adalah pengajar favoritnya dan dia gak pernah lupa sama gue”
atau
”kemarin tulisan gue lolos dengan editing yang sedikit banget. Kayanya gue improve banget deh akhir-akhir ini”

Biarkan lingkungan sekitar lo tahu, betapa berharganya elo sebagai manusia dan seberapa besar elo sudah berkontribusi terhadap kebaikan di dunia. Bahwa hal negatif yang mungkin ada di elo, itu hanyalah sebagian dari keseluruhan hal yang elo punya. Menjadi rendah hati bukan berarti pasrah ketika elo dinilai hanya berdasarkan kekurangan lo. Buat orang-orang tahu apa aja kelebihan dan kehebatan kita, sehingga ketika suatu kali mereka menyudutkan kita dengan kekurangan, kita bisa membalik keadaan dengan bilang,

” you only know about my weakness, then it’s your lost. The truth is, you and you alone, were the one who left behind, because others agree that I did a lot of things good!”

Be loud, be proud and be bold! For your own sake..

Post to Twitter

A Cup of Tea

Omongan Gue

January 13th, 2010

I love talking. I am over confident. I am forgetful. Kombinasi ketiganya menjadi gue suka dengan pedenya ngomong menyatakan pendapat, tapi terus melupakan omongan itu. Masalahnya, ternyata orang-orang suka mengingat apa yang gue omongin. Dan dalam beberapa kasus  itu jadi somewhat backfire ke gue.

- Biru Nggak Matching Sama Coklat

Gue dan temen-temen dekat gue pernah ngobrolin tentang baju. Dan gue kebetulan ingat komentar seorang pakar mode, kalo warna biru nggak cocok sama coklat. Ngomonglah gue dengan pedenya,”eh, nggak bagus lagi kalau warna biru diketemuin sama coklat. Nggak nyambung”. Rupanya omongan gue ini sangat merasuk di hati salah seorang teman itu. Pertemuan berikutnya beberapa minggu kemudian, gue datanglah. Dan temen gue itu protes keras sambil nunjuk gue,”KATA LO BIRU NGGAK BAGUS SAMA COKLAT??” Gue dengan bingung, ngelihat pakaian gue, dan ternyata, gue pakai jeans biru tua dan kaos warna coklat! Gue mengkhianati omongan gue sendiri!

- Teori Piring Kotor

Lagi, gue ketemuan sama seorang teman dari zaman dulu. Obrolan sampai ke bagian kehidupan percintaan. Dia cerita kalo baru balik sama pacarnya yang sudah putus beberapa bulan.

Temen : “Sebenernya waktu itu ada juga cowok lain yang ngedeketin gue. Tapi nggak tahu kenapa gue inget omongan lo, Vin. Jadi gue milih balik sama mantan gue.”

Gue : “Heh??? memang gue ngomong apa?”

Temen : ” Lhoooo.. dulu kan lo pernah bilang, daripada beli mangkok baru mendingan piring yang kotor dicuciin aja. Perumpaamaan lo itu gue inget banget. Jadi yah, hitung-hitung gue cuci piring kotor dengan balik sama dia.”

Gue :”&%(?>!!!…. WHY IN THE WORLD lo menghubungkan omongan anak kos yang lagi ngirit nggak mau beli mangkok dengan relationship ya????”

Temen : ” Looohh… gue pikir???”

Silakan lho, ‘korban-korban’ omongan gue yang mau berbagi :)

Post to Twitter

A Cup of Tea

Sepuluh Hal Yang Oke Buat Cewek, Tapi Nggak Banget Buat Cowok

December 14th, 2009

Jadi cewek itu menurut gue lebih santai. Banyak banget yang bisa kita lakukan dengan sesama cewek, tapi bakalan jadi aneh kalo dilakukan oleh dua cowok. Ini beberapa yang kepikiran sama gue :

SEPULUH HAL YG OKE BUAT DUA CEWEK, TAPI TIDAK OKE DILAKUKAN OLEH DUA COWOK :

1. gandengan tangan (under ANY circumstances, please don’t, guys!)

2. payungan bareng (as above, please!)

3. makan satu piring berdua (harus gue jelasin kenapa? apalagi kalo suap-suapan)

4. saling memuji bentuk badan (kebayang nggak : ‘perut lo rata ya, keren!’, ‘aahh, elo juga tuh, body lo oke banget lagi! WTF???)

5. berantem dengan menjambak rambut (please, this is girls’ human right only)

6. janjian pakai baju senada (katanya, real guy wouldn’t even know the difference between purple and lavender kok..hahaha)

7. nonton konser Justin Timberlake

8. foto dengan gaya mau ciuman =)

9. ke dokter kandungan (ya iyalaaahh… ngapain coba?)

10. tidur di satu tempat tidur, ketika ada tempat tidur lain di kamar itu (I’ll spare the details yeee.. =))

Apalagi yaaaa???

Post to Twitter

A Cup of Tea

Pay It Forward !

November 30th, 2009

Sebelumnya, gue udah mencoba mencari istilah ini dalam bahasa Indonesia, tapi sampai gue mau nulis, belum ketemu terjemahan yang pas. So, be it then, gue akan tulis tetap sebagai ‘Pay It Forward’. Orang yang mengenalkan gue dengan konsep Pay It Forward adalah teman baik gue di kantor, namanya Denny. Pay It Forward (PIF) adalah keadaan dimana elo  meneruskan kebaikan atau good gesture yang pernah elo terima dari orang ke orang lainnya. Gue kasih contoh ya. Pasti kenal grup musik Maliq & D’Essential kan? Mereka adalah binaannya EQ Puradireja, produser yang juga personil grup Humania (who was my major crush once..hehe). Setelah terkenal seperti sekarang, Angga, si vokalisnya Maliq, kemudian membina satu grup bernama 21st Night. Sekarang 21st Night juga sudah mulai eksis di panggung-panggung musik. Nah, yang dilakukan Angga inilah yang disebut dengan ‘Pay It Forward’. Jadi dia meneruskan apa yang pernah dia terima dari EQ ke pemusik lainnya.

Menurut gue, PIF ini adalah bentuk yang lebih advanced dari konsep balas budi. Ketika kita berbicara mengenai balas budi, biasanya itu berarti kita membalas kebaikan orang yang pernah melakukan atau memberikan sesuatu kepada kita. Jadi kalo A pernah ngebantu B, maka B akan membalas dengan membantu A. Ini nggak salah. Kita kan nggak mau juga dibilang orang yang nggak tahu balas budi, kan? Tapi kenapa kita nggak membawa balas budi ini ke satu tingkatan yang lebih ‘advanced’ dan lebih luas, yaitu dengan pay it forward tadi. Ketika kita berpikir dengan konsep balas budi biasa, maka kebaikan yang ada hanya berputar dilingkaran yang itu-itu saja. A bantu B, B balas bantu A, A membalas lagi dengan membantu B. Kapan dong kebaikan itu tersebar? Tapi jika kita terapkan konsep PIF, kebayang nggak yang terjadi? A membantu B, B menolong C, C membantu D, dan seterusnya. Betapa besarnya lingkaran kebaikan yang bisa terbentuk. Dan betapa cepatnya sebuah kebaikan bisa tersebar.

Memang nggak gampang untuk menerapkan konsep ini. Most of the time, orang biasanya menganggap bahwa mereka harus menjadi seseorang yang ‘besar’ dulu untuk bisa membantu orang lain. Padahal nggak harus begitu. Contoh yang gue kasih mengenai Angga-nya Maliq hanya satu ilustrasi. Lo nggak harus nunggu jadi seterkenal Angga dulu, untuk menolong orang lain ngeraih mimpinya jadi musisi. Jadi inget, dulu di SD, seorang teman mengajari gue cara cepat menghafal urutan sembilan planet di tata surya, dari yang paling dekat matahari sampai yang paling jauh. Dia menyingkatnya menjadi Meri Vetik Bunga Mawar Yang Segar Untuk Nenek Plinplan (untuk mengingat urutan Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto). Pinter yah temen gue itu. Gue, yang gak jago menghapal, merasa sangat terbantu dengan singkatan temen gue ini. Gue sebarin singkatan itu ke seluruh kelas. You know what, akhirnya banyak banget ide temen sekelas gue yang bermunculan untuk singkatan. Dari singkatan menghapal ibu kota provinsi, singkatan untuk nama pahlawan revolusi, sampai singkatan sepuluh sungai terpanjang di Indonesia.. hihihihi…

All I am saying is, what we pay forward doesn’t really have to be a big thing, and we ourselves don’t need to be ‘big’ people to pay something forward. Kalau semua orang hanya mau meneruskan kebaikan-kebaikan yang besar, ya nggak akan ada dong sesuatu yang berawal dari kebaikan kecil. Kalau semua orang nunggu sampai menjadi ‘seseorang’ untuk nerusin kebaikan, apa kita yakin kalau orang yang perlu bantuan bisa menunggu sampai kita menjadi orang besar?

Harus ada kesadaran seseorang ketika dia diberi kesempatan untuk pay something forward. Jangan malah menutup mata dan mikirin diri sendiri, dengan dalih apapun itu. Menerima kebaikan atau kesempatan dari seseorang adalah suatu anugerah, tapi meneruskan kebaikan tersebut, menurut gue, adalah suatu kewajiban.

Post to Twitter

A Cup of Tea

Is it November already??

November 4th, 2009

Gue baru menyadari kalau ini sudah masuk bulan November, yang berarti :

-  sudah lebih dari satu bulan sejak posting gue yang terakhir di blog ini

sebagai penulis (okay, I think  ‘penulis’ is such an overstatement buat gue, tapi gue gak menemukan istilah lain), gue memang tidak terlalu produktif dalam mengisi atau mengupdate blog. Akhir-akhir ini, pengalaman menulis gue tidak lebih dari 140 karakter, alias lebih sering twitter-an.. hehe..

- dua bulan lagi sudah tahun baru

jeez, how time flies… di awal tahun ini, gue membuat beberapa resolusi. Unfortunately, sampai dengan November ini, belum ada satu pun yang direalisasikan. And it’s only two months away for me making another resolution :)

- segera masuk musim hujan

bikin gue deg-degan karena daerah sekitar rumah gue tergolong rawan banjir. Mudah-mudahan tetap kering tahun ini. Oh iya, musim hujan juga berarti musim malas cuci mobil buat gue. Sakit hati rasanya kalo kita udah capek-capek cuci mobil, eh pas dibawa keluar si mobil harus tersiram air hujan lagi.. periiihhhh!!.. jadi mendingan nggak usah dicuci aja sekalian, bukan?

- akan segera ada sale dalam rangka menyambut Natal dan Tahun Baru

godaaan berat!! setelah menghabiskan dua hari training financial planning dan menyadari betapa banyak dana menikah dan pensiun yang harus mulai gue sisihkan, sale menjadi suatu momok yang menakutkan. How can I say no to ’sale 70%’, or ‘further reduction’, or ‘big discount’? On the other hand, gue nggak mau juga gak bisa pensiun nanti.. really need to work on the cash flow and planning nihhh..

Post to Twitter

A Cup of Tea