Dalam satu cerita, bisa film, buku, drama atau sinetron, seperti apa pun ceritanya, biasanya akan ada dua penokohan kontras, yaitu si Baik dan si Jahat. Orang seringkali salah kaprah menyebut si Baik dengan sebutan Protagonis dan si Jahat dengan Antagonis. Kenapa salah kaprah? Gue pernah baca, arti Protagonis sebenarnya adalah tokoh yg menjadi sentral dan penggerak cerita, sedangkan Antagonis adalah tokoh yg menjadi lawan atau penentang atau kontra dari Protagonis. Jadi, kalau misalnya tokoh sentralnya jahat (misalnya di film mafia atau film tentang kehidupan perampok), ya Protagonisnya adalah yang jahat. Sedangkan si Antagonisnya adalah yg jadi si baik, misalnya polisi yg berusaha menangkap si perampok. Kalau mau tahu lebih banyak, silakan google aja ya mengenai protagonis dan antagonis ini.
Dalam kebanyakan cerita yang gue baca atau tonton, nggak tahu kenapa, gue cenderung lebih tertarik kepada tokoh jahat (terserah dia protagonis atau antagonis). Menurut gue, karakter mereka biasanya seru, karena si Jahat biasanya adalah si pengambil inisiatif .
Perhatiin deh, dalam kebanyakan cerita, masalah muncul karena adanya intervensi dari si Jahat terhadap keadaan yang tenang, damai, aman dan sentosa. Adanya ide di otak si Jahat membuat keadaan menjadi terguncang. Ini beda sama sifat si Baik yang biasanya adalah responsif terhadap apa yang sudah diperbuat si Jahat. Tokoh baik umumnya menerima akibat dari perbuatan si Jahat dan memperbaiki keadaan tersebut. Si Baik itu menanggapi, sementara si Jahat memulai J Jarang banget, tokoh baik menjadi inisiatif terhadap sesuatu yang besar. Contoh nih ya, dalam cerita Harry Potter. Kalau aja Lord Voldemort nggak bunuh orang tuanya Harry, nggak akan ada tuh Harry Potter yang terkenal itu. Hampir semua penjahat di film super hero adalah inisiator, sedangkan si Pahlawan justru muncul sebagai reaksi dari adanya aksi kejahatan. Istilahnya, nggak ada super hero kalau nggak ada villain-nya. Nggak ada Batman kalau nggak ada Joker, nggak ada Superman kalau nggak ada Lex Luthor, nggak ada Samson kalo nggak ada Delila (errrrr… yang terakhir boleh dicoret kok J).
Terus juga, tokoh Jahat kesannya lebih cerdas ketika menghadapi masalah. Nggak tahu kenapa, gue ngerasa ketika ketemu masalah, tokoh baik biasanya lebih banyak diselamatkan oleh keberuntungan, sementara tokoh Jahat biasanya selamat karena usaha mereka sendiri. Kesannya si Baik sangat tergantung pada balasan dari sifat baik mereka, sedangkan si Jahat harus benar-benar berpikir sendiri untuk keluar dari masalah mereka.. In short, jadi penjahat harus banyak akal, sementara kalau jadi yang baik akan banyak yang mau nolong. Bahkan cerita anak-anak mendukung hal ini. Cinderella punya Ibu Peri yang mau menyulap dia jadi puteri, tapi Drunela dan Barbeta, kakak-kakak tirinya, harus usaha dandan dan pilih baju sendiri waktu mau pergi ke pesta dansa. Aladdin tiba-tiba dapat lampu ajaib berisi Jin yang bisa mengabulkan permintaannya, sementara Jafar yang jahat udah belajar sihir sendiri sejak lama dengan nggak ditolongin siapa-siapa. Bahkan di sinetron Cinta Fitri yang udah sampai season 6 itu, kita bisa lihat si baik Fitri selalu ditolongin orang, sementara Mischa yang nyebelin biasanya harus berjuang sendiri dalam melaksanakan ide jahatnya, termasuk memikirkan jalan keluar dari masalahnya J (Hidup Mischa!! Hahahahaha…)
So, begitulah. Seringkali gue menemukan tokoh jahat lebih menarik daripada tokoh baik. Dalam film The Dark Knight gue lebih suka karakter Joker dari Batman. Gue suka Scarlett O’Hara yang jadi tokoh sentral di novel Gone With The Wind, padahal dia egois dan manipulatif, dibanding Melanie Wilkes sepupunya yang super baik itu. Itu juga kenapa gue sukaaaa banget sama film2 mafia, film tentang kejahatan pencurian (kaya Ocean Eleven atau Italian Job), atau film tentang balas dendam, soalnya kebanyakan tokohnya jahat, all is evil :). Dan juga kenapa gue percaya kalau ‘good girl doesn’t make history’ hahahahahahaha….

A Cup of Tea