Archive

Author Archive

The Story of A Man

August 24th, 2010

Here’s the story of a man
In search of his true happiness
What he went through for the love he craved for

He flew across the ocean
Chasing the love he thought he knew
He found the ocean sank his love down

He stood still
Bleeding, but stood still

On the beach he gathered seaweeds
By which he spelled his lover’s name with
and a question he dearly asked
for the girl to be his one and only
when things went to another direction
He stood still
Hurt, but stood still

In a remote island he insisted of pen and paper
Scribbing down his feeling of love
Let the night be the witness
of a hope sent out to the air
when the hope remained his and not hers
He stood still
Aching, but stood still

Never did he regret what he’s done
For he knows love could never be a wrong reason
Believe in someday, a true person for him will show
And gratefully embraced him as her missing someone

Post to Twitter

A Cup of Tea

Why The Bad Is More Interesting

August 13th, 2010

Dalam satu cerita, bisa film, buku, drama atau sinetron, seperti apa pun ceritanya, biasanya akan ada dua penokohan kontras, yaitu si Baik dan si Jahat. Orang seringkali salah kaprah menyebut si Baik dengan sebutan Protagonis dan si Jahat dengan Antagonis. Kenapa salah kaprah? Gue pernah baca, arti Protagonis sebenarnya adalah tokoh yg menjadi sentral dan penggerak cerita, sedangkan Antagonis adalah tokoh yg menjadi lawan atau penentang atau kontra dari Protagonis. Jadi, kalau misalnya tokoh sentralnya jahat (misalnya di film mafia atau film tentang kehidupan perampok), ya Protagonisnya adalah yang jahat. Sedangkan si Antagonisnya adalah yg jadi si baik, misalnya polisi yg berusaha menangkap si perampok. Kalau mau tahu lebih banyak, silakan google aja ya mengenai protagonis dan antagonis ini.

Dalam kebanyakan cerita yang gue baca atau tonton, nggak tahu kenapa, gue cenderung lebih tertarik kepada tokoh jahat (terserah dia protagonis atau antagonis). Menurut gue, karakter mereka biasanya seru, karena si Jahat biasanya adalah si pengambil inisiatif .
Perhatiin deh, dalam kebanyakan cerita, masalah muncul karena adanya intervensi dari si Jahat terhadap keadaan yang tenang, damai, aman dan sentosa. Adanya ide di otak si Jahat membuat keadaan menjadi terguncang. Ini beda sama sifat si Baik yang biasanya adalah responsif terhadap apa yang sudah diperbuat si Jahat. Tokoh baik umumnya menerima akibat dari perbuatan si Jahat dan memperbaiki keadaan tersebut. Si Baik itu menanggapi, sementara si Jahat memulai J Jarang banget, tokoh baik menjadi inisiatif terhadap sesuatu yang besar. Contoh nih ya, dalam cerita Harry Potter. Kalau aja Lord Voldemort nggak bunuh orang tuanya Harry, nggak akan ada tuh Harry Potter yang terkenal itu. Hampir semua penjahat di film super hero adalah inisiator, sedangkan si Pahlawan justru muncul sebagai reaksi dari adanya aksi kejahatan. Istilahnya, nggak ada super hero kalau nggak ada villain-nya. Nggak ada Batman kalau nggak ada Joker, nggak ada Superman kalau nggak ada Lex Luthor, nggak ada Samson kalo nggak ada Delila (errrrr… yang terakhir boleh dicoret kok J).

Terus juga, tokoh Jahat kesannya lebih cerdas ketika menghadapi masalah. Nggak tahu kenapa, gue ngerasa ketika ketemu masalah, tokoh baik biasanya lebih banyak diselamatkan oleh keberuntungan, sementara tokoh Jahat biasanya selamat karena usaha mereka sendiri. Kesannya si Baik sangat tergantung pada balasan dari sifat baik mereka, sedangkan si Jahat harus benar-benar berpikir sendiri untuk keluar dari masalah mereka.. In short, jadi penjahat harus banyak akal, sementara kalau jadi yang baik akan banyak yang mau nolong. Bahkan cerita anak-anak mendukung hal ini. Cinderella punya Ibu Peri yang mau menyulap dia jadi puteri, tapi Drunela dan Barbeta, kakak-kakak tirinya, harus usaha dandan dan pilih baju sendiri waktu mau pergi ke pesta dansa.  Aladdin tiba-tiba dapat lampu ajaib berisi Jin yang bisa mengabulkan permintaannya, sementara Jafar yang jahat udah belajar sihir sendiri sejak lama dengan nggak ditolongin siapa-siapa. Bahkan di sinetron Cinta Fitri yang udah sampai season 6 itu, kita bisa lihat si baik Fitri selalu ditolongin orang, sementara Mischa yang nyebelin biasanya harus berjuang sendiri dalam melaksanakan ide jahatnya, termasuk memikirkan jalan keluar dari masalahnya J (Hidup Mischa!! Hahahahaha…)

So, begitulah. Seringkali gue menemukan tokoh jahat lebih menarik daripada tokoh baik. Dalam film The Dark Knight gue lebih suka karakter Joker dari Batman. Gue suka Scarlett O’Hara yang jadi tokoh sentral di novel Gone With The Wind, padahal dia egois dan manipulatif, dibanding Melanie Wilkes sepupunya yang super baik itu. Itu juga kenapa gue sukaaaa  banget sama film2 mafia, film tentang kejahatan pencurian (kaya Ocean Eleven atau Italian Job), atau film tentang balas dendam, soalnya kebanyakan tokohnya jahat, all is evil :). Dan juga kenapa gue percaya kalau ‘good girl doesn’t make history’ hahahahahahaha….

Post to Twitter

A Cup of Tea

#GILI Bali Day 7 - 9 : to wrap it up!

June 6th, 2010

Berhubung Bali mendung terus selama dua hari kita disana, akhirnya ditetapkan nggak ada kunjungan ke pantai Bali. Jadi, kerjaan kita selama di Bali adalah MAKAN! Seperti biasa, kita sudah punya itinerary tempat makan yang harus didatangi di Bali. Osteria Telese, Jimbaran Sea Food, The Mama’s, Deli Cat, dan tentunya untuk para pecinta pork ribs, Naughty Nuri’s di Ubud! Hehe..
Jalan-jalan menyusuri Seminyak dan Legian juga masih menyenangkan buat gue. Seneng aja rasanya lihat toko-toko baju.. hehe, dasar perempuan!

Ketika akhirnya kita beneran pulang hari Minggu, gue dan teman-teman tahu, liburan tahun ini benar-benar nggak terlupakan.

FOR GILI..

…and you wonder how I remember you..

ask the beach who waits for the waves to reach it

ask the horizon who waits for the sun to set

ask the rainbow who waits for the rain to stop to emerge

ask the sky who waits for the white clouds to gather

that’s how I remember you..

Post to Twitter

Vacation - Gili 2010

#GILI Day 6 : I Left My Heart in Gili Trawangan

June 6th, 2010

Thursday 27 May 2010

Akhirnya pulang juga. Sebenernya belum bener-bener pulang sih, karena dari Gili ini kita lanjut ke Bali dan stay di sana sampai hari Minggu, kecuali Ria. Tapi, no disrespect to Bali, memang kayanya the core of the vacation tahun ini ada di Gili. Itu kenapa ninggalin Gili rasanya kaya liburan udah selesai :)

Untuk transportasi ke Bali, kita memilih naik fast boat, kapal bermotor yang memang melayani penyebrangan Gili – Bali. Again, ada beberapa jasa penyedia fast boat ini. Beberapa yang gue tahu adalah Giligili dan Blue Water. Rombongan kami memilih Blue Water. Untuk tiketnya per orang dikenakan Rp 630 ribu. Kalau lo nggak mau naik fast boat, selalu ada pilihan untuk nyebrang balik ke Lombok dan naik pesawat ke Bali dari Lombok. Ada beberapa pilihan maskapai, seperti Trigana dan Merpati. Grup kami memilih fast boat dengan alasan kepraktisan. Soalnya tinggal jalan kaki dari resort ke tempat fast boat, terus nyebrang sampai pelabuhan Serangan di Bali, dan dari Serangan diantar dengan mobil Blue Water ke hotel tempat kita nginap. Nggak usah susah-susah cari inter transport lagi.

Penyebrangan ke Bali jadi cerita tersendiri juga. Matahari yang terang banget pas kita berangkat, ternyata berubah menjadi hujan dan angin kencang pas di tengah laut. Gue, tadinya duduk di belakang kapal, tapi karena terkena semburan air laut belahan kapal, gue pindah ke dalam. Pas di dalam, gue menemukan Rangga yang lagi berjuang keras menahan mabuk laut. Gue dengar kapten kapal ngomong ke anak buahnya,”cuaca jelek, tutup jendela!” and with that, we, the passengers, each held our breath!
Benturan-benturan alias bumpy kapal dengan lautan menjadi semakin keras. Ombak laut sudah terlihat sangat tinggi dari dalam kapal. Agung bahkan bilang dia sempat lihat di bagian kiri kapal, sempat ada ombak yang tingginya mungkin dua kali kapal. Di suatu tempat, kapal terpaksa berhenti, karena salah satu mesinnya tersangkut sampah! Masih kurang aja gitu tantangan perjalanan. Seorang wanita bule yang duduk disamping Ria berulang kali mengatakan,”I don’t like this, this doesn’t seem good!” menurut lo???
Begitu kapal menyentuh pelabuhan Serangan, kami semua menarik napas lega. Fiuhhhhh…. that’s some journey!

Selain alamnya, gue juga mau ngacungin jempol untuk keramahan orang-orang Gili. Baru kali ini, gue merasa bahwa turis lokal dihargai sama, bahkan mungkin lebih, dari turis asing. Keramahan yang seperti ini, juga jadi salah satu yang akan dikangenin banget dari Gili. Thumbs up!

Post to Twitter

Vacation - Gili 2010

#GILI Day 5 : The Rainbow

June 6th, 2010

Wednesday 26 May 2010

Hari ini kita bangun dengan sendu, mengingat ini hari terakhir kita di pulau kecil ini. Kayanya masih banyak banget yang belum dilakuin. Setelah makan siang di warung traditional di pasar (namanya Kiki Novi, sangat modest, satu kali makan dengan lauk dan sayur hanya sekitar 15 ribu), kita kembali main di spot pantai favorit. Udara berawan dan sempat hujan gerimis sedikit. Suasana yang sangat disukai Adrian, karena dia bisa berenang sepuasnya tanpa takut hitam! Hahaha… berhubung guenya lagi gak bisa nyebur ke laut, gue duduk-duduk aja di pantai, dengan ditemani i-pod dan buku. And you know what, it still feels great!
Hujan gerimis memunculkan satu fenomena alam lain. PELANGI! Tiba-tiba di ujung horison dari pantai, muncul pelangi. You might wanna say,’yeee, kalo pelangi di Jakarta juga ada!’… oke, pernahkah lo melihat pelangi yang warnanya jadi begitu jelas karena langit latar belakangnya begitu biru? Atau pernah nggak lihat pelangi yang lengkungan panjang lengkap dari ujung ke ujung? Atau pernah nggak lihat pelanginya dua tumpuk sekaligus? Well, we have!

Rainbow (by Sita)

Rainbow (by Sita)

Post to Twitter

Vacation - Gili 2010

#GILI Day 4 : Snorkeling Time!

June 6th, 2010

Tuesday 25 May 2010

Oke, gue memang nggak bisa berenang, tapi gue sebenernya niat banget snorkeling dengan pakai life jacket! Sayangnya, karena sesuatu hal, akhirnya gue gak bisa ikutan snorkeling. Tapi anak-anak berbaik hati menyewa perahu yang dasarnya kaca (glass bottom) sehingga gue tetap bisa ngintipin dasar laut, walaupun gak turun dari perahu. Sama kaya sewa sepeda, organizer diving dan snorkeling banyak di Gili. Jadi bisa browsing dulu untuk bandingin harga dan fasilitas. Rombongan gue dapat harga Rp 600 ribu per kapal untuk 4 jam, tapi belum termasuk peralatan snorkeling yang bisa disewa terpisah kalau lo mau. Kalau mau maksimal, jangan lupa bawa bekal roti, untuk kasih makan ikan. Nanti ikannya akan ngumpul disekeliling lo.. lucu deh!

On the boat (by Ria)

On the boat (by Ria)

Menurut Sita dan Ria yang biasa snorkeling, di Gili ini enak, karena lo nggak perlu sampai jauh ke tengah laut untuk dapat spot tempat ikan ngumpul. Ikannya banyak, belang-belang warna hitam kuning, biru metalik, dan totol-totol. Gue jadi inget Finding Nemo!

Here..fishy, fishy.. (by Ria)

Here..fishy, fishy.. (by Ria)

Feeding the Fish (by Abed)

Feeding the Fish (by Abed)

Dengan perahu sewaan itu juga, kita makan siang di Gili Air. Ini pulau lain dalam jajaran Gili. Selengkapnya ada tiga pulau : Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Yang didevelop kayanya sih memang baru Gili Trawangan. Dua Gili lainnya kelihatan masih sepi pariwisata.
Habis makan siang, kita turun sekali lagi untuk melihat koral-koral cantik di dasar laut. Kaya ada payung-payung terbuka di bawah laut gitu jadinya. Keren deh! Gue aja yang cuma ngintip dari perahu ngerasain bagusnya, apalagi yang ngelihat langsung di dalam laut.

The Inner Beauty :) (by Sita)

The Inner Beauty :) (by Sita)

Untuk dinner malam ini, kita lagi-lagi nyobain restoran yang direkomendasiin sama The Lonely Planet. Namanya Gili Deli. Nggak salah memang rekomendasinya. All the bread and stuffs there was simply terrific! Yang paling gue rekomen adalah Home Made Tuna Saladnya. Have it with any bread you want : bagel, bagguete, panini, rye, it’s still delicious. Harga makanannya sekitar Rp 35 ribu sampai 45 ribu. Nggak nyesel deh, enakkkkk!

Post to Twitter

Vacation - Gili 2010

#GILI Day 3 : The Day of Doing Nothing and Sunseting

June 6th, 2010

Monday 24 May 2010

Tadinya acara hari ini adalah snorkeling, tapi sampai jam 10 pagi langit masih mendung. Jadi daripada nggak maksimal, rencana snorkeling ditunda ke besok. Gantinya? di resort aja. Ngapain? Ya, nggak ngapa-ngapain. That’s the whole idea of vacation, isn’t it? Nggak diburu waktu dan schedule, dan boleh aja kalau nggak mau ngapa-ngapain :) So, we’re just sitting by the pool, chit chatting ringan (tentang masa depan ekonomi Indonesia, suku bunga kredit perbankan serta kelaparan di Afrika… yeaah, rite!), nonton film di TV kabel. Internet di Gili lumayan kenceng lho. Itu kenapa teman-teman gue tetap bisa rutin ber-twitter-an, facebook-an dan foursquare-an. Abed dan Sita rajin posting foto di twitter yang membuat seorang teman di Jakarta jadi sirik dan ngedoain koneksi internet hp kita mati :) , Rangga dan Ria terus berkompetisi check in untuk jadi Major di pantai Gili. Adrian, beberapa kali tak terdeteksi dan menghilang dari kerumunan :) Sementara gue, Agung dan Eka sibuk berdiskusi mengenai masa depan ekonomi Indonesia tadi… right, guys?


Hari ini kita mengejar matahari terbenam. Dari hasil keliling pulau kemarin, kita nemuin ada tempat bernama Sunset Bar yang punya spot terbuka, dimana dari situ sunset kelihatan dengan sangat jelas. Jadi, kesanalah kita menuju. Kaya apa sunsetnya? Lihat sendiri ya. I believe picture speaks a thousand words!

Our Sunset (by Ria)

Our Sunset (by Ria)

Sunset and Us (by Ria)
Sunset and Us (by Agung)

 

Post to Twitter

Vacation - Gili 2010

#GILI Day 2 : Exploring The Island and The Beach

June 6th, 2010

Sunday 23 May 2010

Hari ini kita masih rencana kelilingin pulau, soalnya kan kemarin baru sedikit dan udah gelap pula. Dengan niat memperlancar perjalanan, kita mutusin untuk sewa sepeda. Di Gili nggak ada kendaraan bermotor. Jadi transportasinya adalah jalan kaki, naik sepeda atau naik cidomo alias delman. Sewa sepeda itu sekitar 15 ribu per jam dan 60 ribu per hari. Silakan tawar-tawaran kalo sewa sepedanya banyak, atau mau sewa untuk beberapa hari sekaligus. Terakhir gue denger, ada yang bisa dapat sewa untuk 3 hari seharga 90 ribu. Lumayan dong diskonnya. Oh iya, tempat sewa sepedanya banyak. Selama disana, gue dan teman-teman mencoba tiga vendor (jiaahhh, vendor istilahnya :)). Jadi bisa kalau mau banding-bandingin.

The Bikes (by Sita)

The Bikes (by Sita)

Errrr, ternyata sewa sepeda nggak berarti memperlancar perjalanan! Soalnya ada bagian pulau (kira-kira setengah keliling pulau) yang masih sangat berpasir. Ini memang bagian pulau yang masih lebih sepi dan kayanya belum terlalu dikembangkan. Jadi deh, nasib kita adalah menenteng sepeda, soalnya gak bisa digowes pas disitu. Tapi nggak apa-apa, namanya juga eksplorasi :) asal jangan lupa bawa minum yang banyak. Capek, jo, nenteng sepeda lewat pasir! Total waktu untuk kelilingin Gili full circle, naik sepeda (plus nenteng) sekitar 2.5 jam. Kebayang kan ukuran pulaunya? Waktu udah jam setengah tiga waktu kita berhenti dan makan siang. Dengan badan keringetan, muka merah kaya direbus, kulit gelap kebakar matahari, kita makan siang di Scally Wags. Pelayan meja kita dengan ramah nanya ke gue :

Pelayan : ”habis darimana, Mbak?”

Gue  : ”oh, naik sepeda keliling pulau aja, Mas?”

Pelayan (dengan muka lempeng) : ”kenapa siang-siang begini, Mbak? Kan panas. Kok tidak sore-sorean nanti aja?”

Gue : ”-_-”

Capekkk nenteng sepeda :) (by Sita)

Capekkk nenteng sepeda :) (by Sita)

Selain keliling pulau, kita akhirnya nyobain lautnya. Jeeeeeeezzz… pantai dan laut di Gili, bikin jatuh cinta! Spot pantai paling enak untuk direnangin dan ditongkrongin ada di dekat The Horizontal Lounge. Pantainya punya publik, jadi siapa pun, gak harus tamu resort, bisa masuk. Airnya biruuuuuu banget, sampai gue kepikir pasti Tuhan kehabisan warna biru gara-gara asik ngewarnain laut Gili. Pokoknya selama di Gili itu, referensi warna gue cuma biru dan putih! Langit dan laut hampir sama birunya. Kebayang nggak sih. Langitnya bersih dan awannya putih banget. Pengen rasanya nyuri sepotong laut dan sepotong langit dari Gili untuk dibawa pulang ke Jakarta. Supaya gue bisa tunjukkin ke orang-orang,”nih, kaya gini lho, yang namanya warna biru langit dan biru laut itu!”

Just Blue (by Sita)

Just Blue (by Sita)

water and sands (by Ria)

water and sands (by Ria)

Blue n nothing but blue (by Ria)

Blue n nothing but blue (by Ria)

Cloud, Sky n Sea (by Sita)

Cloud, Sky n Sea (by Sita)

Walking the beauty (by Sita)

Walking the beauty (by Sita)

Post to Twitter

Vacation - Gili 2010

#GILI Day 1 : Get There Fast and then Take It Slow!

June 6th, 2010

Saturday 22 May 2010
Flight Garuda membawa rombongan kita dari Soekarno Hatta mendarat di bandara Selaparang, Mataram. Berhubung kebiasaan naik budget air lines, gue sempat terkesima waktu ditawarin makan siang di pesawat. Norak ya.. hehe..
Naahhhh.. untuk yang pengen tahu, Gili Trawangan itu adalah pulau di sebelah barat Lombok. Artinya, dari bandara kita masih harus ke pelabuhan, untuk kemudian menyeberang dari Lombok ke Gili Trawangan. Ribet? Agak sih. Untungnya, resort tempat kita nginep di Gili, namanya The Beach House, punya jasa antar jemput dari bandara sampai ke resortnya. Mereka bahkan punya tempat penyebrangan sendiri, jadi kita gak lewat pantai umum. Dengan hanya bayar Rp 125 ribu per orang, kita dijemput dengan mobil di bandara, dianterin sampai ke pelabuhan penyeberangan, dan disebrangkan naik speed boat ke pantai resortnya. Oke kan? Perjalanan dari bandara ke pelabuhan sekitar 1 jam. Nyebrang ke Gilinya, hanya perlu waktu 20 menit!
In case elo pengen atau harus ngurus penyeberangan ke Gili sendiri tanpa jasa resort, disarankan untuk pesan taksi aja, Blue Bird, untuk ke pelabuhan. Dari pelabuhan, ada kapal penyebrang dengan range harga Rp 10 ribu sampai Rp 25 ribu per orang, berangkat hampir setiap jam. Tapi disarankan untuk menyberang sebelum sore hari, untuk menghindari laut pasang. Tadinya teman-teman gue sempat kepikiran mau nyebrang pakai kapal ini, tapi langsung diprotes sama gue dan Ria, yang agak was-was dan parno soal safety, berhubung kita nggak bisa berenang  :)

Arriving at Gili (by Sita Basuki)

Arriving at Gili (by Sita Basuki)

Menginjakkan kaki di pantai Gili pertama kali, yang ada di pikiran gue adalah,”hmmm, sepi ya pulaunya, gak kaya Bali. Orang ngapain aja ya disini?” which later on, proved to be unnecessary thought. As I said before, kita nginep di The Beach House, menyewa cottage dengan tiga kamar dan private swimming pool.. Yihaaaa! Jangan salah, walopun gak bisa berenang, gue senang berendam di pool :) Menurut gue sih, The Beach House is a very decent place to stay in, ya. Bersih, terawat, dan punya fasilitas air bersih. Oh iya, di Gili ini, air bersih masih harus didatangkan dari Lombok naik kapal. Jadi nggak semua penginapan punya. Dan untuk yang punya air bersih, biasanya diminta pengertian tamu resort untuk hemat air. Wajarlah ya.

Room @ The Beach House (by Santi Abed)

Room @ The Beach House (by Santi Abed)

Private Pool @ The Beach House (by Santi Abed)

Private Pool @ The Beach House (by Santi Abed)

Hari pertama ini kita isi dengan penjelajahan pulau. Gue dan teman-teman jalan kaki menyusuri jalan kecil di pinggir pantai, sampai ternyata perut udah lapar karena waktunya dinner. Pas banget, kita sampai di restoran pizza yang namanya ’Coral Beach Pizza’. Restoran ini direkomendasiin sama The Lonely Planet lho. Specialty-nya? Ketoprak… yeaaaa menurut loooo?? Ya Pizza-nya lah.. Kita order 5 loyang pizza, yang ternyata habis dalam waktu kurang dari 30 menit. Hehe, kelaparan karena energi habis buat jalan kayanya. Harga satu loyang besar pizzanya sekitar Rp 40 ribu – Rp 50 ribu. Pizzanya enak! Personally, gue paling suka yang toppingnya Quatro. Di Coral Beach ini juga kita pertama kali tahu, bahwa kalau lo pesan air mineral di semua tempat makan di Gili, ukuran ‘kecil’ itu merujuk kepada botol air mineral 600 Ml, sedangkan ‘besar’ itu artinya air mineral ukuran 1 Liter! Jadi, kita sempat kaget waktu pesan minum air mineral besar, dan si pelayan datang dengan langkah tegap membawa delapan botol air ukuran 1 liter! Hahahaha…

Post to Twitter

Vacation - Gili 2010

The Gili Trawangan Story - Four Ladies, Four Gents & One Amazing Island

June 6th, 2010

I already knew from the very beginning kalo liburan tahun ini akan lebih istimewa dari tahun-tahun sebelumnya. Pertama, karena ini untuk pertama kalinya rombongan gue dan teman-teman menginjakkan kaki di tempat tujuan liburan kami. Ke dua, baru tahun ini, tiket pulang ke Jakarta sudah lebih dulu dibeli di bulan September 2009, dari pada tiket berangkatnya yang baru dibeli di bulan April 2010. Becandaan kita waktu itu,”liburan kali ini kita belum tentu berangkat, tapi udah pasti pulang!” hehe.. Jadi, dengan tiket di tangan, ransel dan travel bag dalam jinjingan, cuti kantor 4 hari, berangkatlah gue, Abed, Sita, Ria, Agung, Eka, Rangga dan Adrian  menuju pulau GILI TRAWANGAN !

at-soekarno-hatta

Post to Twitter

Vacation - Gili 2010