One-Stop Solution Friend? Don’t think so!
Apa sih one stop solution friends? Secara singkat, yang gue maksud adalah teman yang bisa jadi apa aja, diajak ngapain aja dan menjalani apa aja bersama kita. Pernah ke hyper market kan? Terutama brand yang asalnya dari Perancis itu. Sepuluh tahun lalu, orang mungkin nggak akan terbayang akan pergi ke pasar swalayan untuk cari sepatu olahraga. Sekarang? Sambil belanja sayuran dan makanan jadi, lo bisa melihat-lihat sepatu dan tas di hyper market tersebut. Mereka menawarkan konsep one-stop shopping solution, dimana elo bisa mendapatkan semua kebutuhan, hanya dengan datang ke toko mereka.
Kalau teman diibaratkan toko, apakah ada yang namanya one-stop solution friends, seperti yang gue bilang diatas? Adakah orang, atau sebaliknya, bisakah kita, menjadi satu-satunya orang yang menyediakan apa pun keperluan teman kita? Hmm… menurut gue, nggak bisa.
Kita adalah mahluk sosial, itu kenapa kita butuh teman. Tapi kita juga adalah mahluk pribadi, dimana ada suatu ruang privasi yang kita ingin simpan untuk diri kita sendiri. Seandainya pun ada akses untuk orang lain untuk masuk ke ruang privasi, maka orang itu pastinya sudah kita seleksi dengan ketat dan nggak sembarangan. Kalau diibaratkan dengan pesta, ada yang disebut dengan private party. private party akan beda guest listnya antara pesta satu dengan lainnya, tergantung party-nya tentang apa. iya kan?
Salah seorang kenalan gue bercerita, dia ngambek sama temannya, karena nggak ikutan diajak ke sebuah acara dengan undangan terbatas. Kenalan gue itu bilang,”gue nggak ngerti, deh, kita tuh selalu cerita-cerita masalah pribadi kita. Kok giliran ada acara hura-hura gini gue nggak diajak?” menurut gue, si kenalan gue melihat dengan cara yang salah. Kalau dalam pikiran gue, justru si teman itu nggak ngajak dia karena dipikir ini hanya acara hura-hura. It’s not something as essential as sharing your problematic love story, so why bother your dearest friends for that? Oke, mungkin itu terlalu ekstrim. What I mean is, seseorang, termasuk kita, bisa punya list of interest dan disinterest yang panjang banget, dan gue nggak percaya satu ataupun sekelompok orang bisa mengakomodasi semua hal itu.
Contohnya gue deh. Gue suka banget jalan-jalan rame-rame. Unfortunately, salah satu teman terdekat gue justru tipe orang yang nggak terlalu menyukai kegiatan yang melibatkan banyak orang. Had I insisted this person to join my interest, bukankah akan nggak baik buat dia krn nggak nyaman? Dan akhirnya gak enak di gue juga, karena udah bikin sahabat gue jadi gak nyaman? Yang gue lakukan adalah gue punya kelompok teman gue yang lain yang memang punya kesukaan yang sama. Jadinya ada beberapa circle of friends. I know where to go when I want to have some crazy atcs, where to go to find goofy stories, where to go to share my point of view of philosophical thingy. Dan menurut gue, nggak salah kalau setiap orang juga begitu.
Kita berteman dengan seseorang karena ada suatu chemistry yang nyambung antara kita. Tapi chemistry itu nggak berarti kita harus cocok di segala hal dan harus melakukan segalanya bareng-bareng. Kita nggak harus menjadi one-stop solution friend untuk teman kita, dan tentunya nggak perlu mengharapkan teman kita begitu untuk kita. Wajar kok, kalau temen lo ngajak elo untuk nyoba semua restoran baru, tapi ketika dia lagi sedih selo bukan orang pertama yang tahu ceritanya. Normal kalau elo ngerasa si A lebih cocok kalo lo curhat tentang pacar lo, tapi giliran pengen cerita soal kerjaan lo lebih memilih si B. Kita nggak perlu ngerasa bersalah untuk itu. Kita adalah pribadi dengan serangkaian interest dan masalah, yang masing-masing dari interest dan masalah itu akan menemukan pasangan kecocokannya sendiri. There is no one-stop solution friend. Yang bisa kita lakukan, untuk apapun segi kehidupan seseorang yang bisa kita akomodasi, adalah menjadi teman yang baik untuknya. Itu aja.









