Dua minggu yang lalu kantor gue kedatangan tamu dari luar negeri. Seorang petinggi yang, katanya, waktu interview rekrutmennya langsung berhadapan dengan founding fathernya kantor gue. Kebayang nggak? Betapa tua dan pengalamannya dia .. :) Buat lebih akrab, kita panggil aja dia Bob.
Berhubung kedudukannya yang penting banget, Bob ini jadi sering sekali melakukan perjalanan ke luar negeri. Bayangkan aja, selama tahun 2009 ini, yang berarti baru dari Januari sampai Juli kemarin, Bob sudah membuat 38 trip keluar negeri. Kalo diambil rata-rata, itu berarti sekitar 5 trip per bulan, atau paling nggak 1 trip per minggu!
Teman gue kemudian ada yang iseng nanya sama Bob,”how do you find time for your self, your family, and your hobby?” Tau nggak jawabannya apa?
“Easy, I create my own day!”
Hmmmm… setahu gue sih, Tuhan memang masih menciptakan banyak hal, tapi tidak hari. Eh, by the way, kalo ada tambahan satu hari lagi dalam seminggu, mau kita namain apa ya? Hasunggu, untuk singkatan dari ’Hari Sesudah Minggu’? atau Habenin, untuk ‘Hari Sebelum Senin’?
… Anywayyyyyy, Jadi, gimana cara Bob menciptakan hari?
Menurut Bob, dia selalu merencanakan semua perjalanannya di awal tahun. Yang dia lakukan adalah dia membuat tripnya ke satu arah, yaitu arah timur. Jadi misalnya dia berangkat dari Indonesia. Terus dia perlu melakukan trip ke Australia, Vietnam dan Thailand. Maka dia akan membuat rute perjalanannya menjadi Jakarta – Thailand – Vietnam – Australia. Dan seterusnya demikian ke arah timur. Kenapa ke arah Timur? Karena waktu berjalan lebih dulu semakin ke timur. Elo jadi ’memanipulasi’ waktu perjalanan. Contoh gampangnya, dari Jakarta ke Denpasar itu perlu dua jam penerbangan. Jadi kalau lo berangkat dari Jakarta jam 9, seharusnya lo baru sampai pukul 11. Tapi karena Denpasar itu lebih ke timur dan lebih cepat satu jam, maka elo akan sampai di Denpasar pukul 12.00. In other words, elo dapat keuntungan satu jam. Kalau ini diteruskan ke arah Timur, elo akan dapat keuntungan waktu yang lebih banyak lagi. Pernah nonton atau baca ‘Around The World in 80 Days’? Di situ, si tokoh utama Mr. Fogg, akhirnya mendapatkan keuntungan waktu satu hari karena rute perjalanannya yang ke arah timur, seperti berikut :
London - Suez – Bombay – Calcutta - Hong Kong – Yokohama - San Francisco - New York - London
Naaahhh… Bob, menurut gue, mengaplikasikan ide Mr. Fogg ini, sehingga dia bisa menciptakan harinya sendiri. Cool, eh?
Apa yang dilakukan Bob membuat gue jadi malu. Soalnya gue sendiri suka banget pakai alasan ‘nggak punya waktu’ untuk tidak melakukan banyak hal. Mulai dari ngeberesin kamar, menyampuli buku-buku gue, ketemu teman-teman lama, kumpul bareng keluarga besar, menyiangi padi di sawah, mengangon kerbau di ladang, menggembalakan domba di padang rumput… okeeee, mungkin udah terlalu jauh nih gue mikirnya. Intinya, alasan nggak punya waktu selalu akan terdengar begitu benar dan begitu pintar tiap kali kita nggak melakukan sesuatu yang memang memerlukan alokasi waktu yang tidak sebentar. Padahal, kalo dipikir-pikir, kamar gue kan nggak salah. Apa iya, karena gue sibuk, dia jadi harus menanggung sarang laba-laba di langit-langit karena nggak sempat gue bersihin? Apa iya buku-buku gue harus menanggung akibat dimakan rayap karena gak sempat gue sampulin, padahal mereka gak ikutan dalam membuat gue sibuk? Belum lagi kerbau dan domba tak bersalah itu… oke, stop there!
Balik lagi, selalu ada cara kok. Bob membuat caranya dengan menciptakan harinya sendiri, dengan rencana perjalanan yang cermat. Kita yang masih di dalam kota aja, seharusnya bisa lebih leluasa, kan? Masa sih 24 jam yang ada dalam sehari nggak bisa diakalin supaya cukup buat semua? Kalau 24 jam nggak cukup, masa iya 7 hari seminggu nggak bisa diakalin? Nggak bisa juga? Come on, 4 minggu sebulan? It’s all about your will and witty planning.
Jadi, next time, kalo ada yang bilang sama elo (terserah deh mau keluarga, temen atau pacar), “sorry, I don’t have time”, you can answer it, “Then MAKE one!”

vina A Cup of Tea