Omongan Gue

January 13th, 2010

I love talking. I am over confident. I am forgetful. Kombinasi ketiganya menjadi gue suka dengan pedenya ngomong menyatakan pendapat, tapi terus melupakan omongan itu. Masalahnya, ternyata orang-orang suka mengingat apa yang gue omongin. Dan dalam beberapa kasus  itu jadi somewhat backfire ke gue.

- Biru Nggak Matching Sama Coklat

Gue dan temen-temen dekat gue pernah ngobrolin tentang baju. Dan gue kebetulan ingat komentar seorang pakar mode, kalo warna biru nggak cocok sama coklat. Ngomonglah gue dengan pedenya,”eh, nggak bagus lagi kalau warna biru diketemuin sama coklat. Nggak nyambung”. Rupanya omongan gue ini sangat merasuk di hati salah seorang teman itu. Pertemuan berikutnya beberapa minggu kemudian, gue datanglah. Dan temen gue itu protes keras sambil nunjuk gue,”KATA LO BIRU NGGAK BAGUS SAMA COKLAT??” Gue dengan bingung, ngelihat pakaian gue, dan ternyata, gue pakai jeans biru tua dan kaos warna coklat! Gue mengkhianati omongan gue sendiri!

- Teori Piring Kotor

Lagi, gue ketemuan sama seorang teman dari zaman dulu. Obrolan sampai ke bagian kehidupan percintaan. Dia cerita kalo baru balik sama pacarnya yang sudah putus beberapa bulan.

Temen : “Sebenernya waktu itu ada juga cowok lain yang ngedeketin gue. Tapi nggak tahu kenapa gue inget omongan lo, Vin. Jadi gue milih balik sama mantan gue.”

Gue : “Heh??? memang gue ngomong apa?”

Temen : ” Lhoooo.. dulu kan lo pernah bilang, daripada beli mangkok baru mendingan piring yang kotor dicuciin aja. Perumpaamaan lo itu gue inget banget. Jadi yah, hitung-hitung gue cuci piring kotor dengan balik sama dia.”

Gue :”&%(?>!!!…. WHY IN THE WORLD lo menghubungkan omongan anak kos yang lagi ngirit nggak mau beli mangkok dengan relationship ya????”

Temen : ” Looohh… gue pikir???”

Silakan lho, ‘korban-korban’ omongan gue yang mau berbagi :)

Post to Twitter

vina A Cup of Tea

Sepuluh Hal Yang Oke Buat Cewek, Tapi Nggak Banget Buat Cowok

December 14th, 2009

Jadi cewek itu menurut gue lebih santai. Banyak banget yang bisa kita lakukan dengan sesama cewek, tapi bakalan jadi aneh kalo dilakukan oleh dua cowok. Ini beberapa yang kepikiran sama gue :

SEPULUH HAL YG OKE BUAT DUA CEWEK, TAPI TIDAK OKE DILAKUKAN OLEH DUA COWOK :

1. gandengan tangan (under ANY circumstances, please don’t, guys!)

2. payungan bareng (as above, please!)

3. makan satu piring berdua (harus gue jelasin kenapa? apalagi kalo suap-suapan)

4. saling memuji bentuk badan (kebayang nggak : ‘perut lo rata ya, keren!’, ‘aahh, elo juga tuh, body lo oke banget lagi! WTF???)

5. berantem dengan menjambak rambut (please, this is girls’ human right only)

6. janjian pakai baju senada (katanya, real guy wouldn’t even know the difference between purple and lavender kok..hahaha)

7. nonton konser Justin Timberlake

8. foto dengan gaya mau ciuman =)

9. ke dokter kandungan (ya iyalaaahh… ngapain coba?)

10. tidur di satu tempat tidur, ketika ada tempat tidur lain di kamar itu (I’ll spare the details yeee.. =))

Apalagi yaaaa???

Post to Twitter

vina A Cup of Tea

Pay It Forward !

November 30th, 2009

Sebelumnya, gue udah mencoba mencari istilah ini dalam bahasa Indonesia, tapi sampai gue mau nulis, belum ketemu terjemahan yang pas. So, be it then, gue akan tulis tetap sebagai ‘Pay It Forward’. Orang yang mengenalkan gue dengan konsep Pay It Forward adalah teman baik gue di kantor, namanya Denny. Pay It Forward (PIF) adalah keadaan dimana elo  meneruskan kebaikan atau good gesture yang pernah elo terima dari orang ke orang lainnya. Gue kasih contoh ya. Pasti kenal grup musik Maliq & D’Essential kan? Mereka adalah binaannya EQ Puradireja, produser yang juga personil grup Humania (who was my major crush once..hehe). Setelah terkenal seperti sekarang, Angga, si vokalisnya Maliq, kemudian membina satu grup bernama 21st Night. Sekarang 21st Night juga sudah mulai eksis di panggung-panggung musik. Nah, yang dilakukan Angga inilah yang disebut dengan ‘Pay It Forward’. Jadi dia meneruskan apa yang pernah dia terima dari EQ ke pemusik lainnya.

Menurut gue, PIF ini adalah bentuk yang lebih advanced dari konsep balas budi. Ketika kita berbicara mengenai balas budi, biasanya itu berarti kita membalas kebaikan orang yang pernah melakukan atau memberikan sesuatu kepada kita. Jadi kalo A pernah ngebantu B, maka B akan membalas dengan membantu A. Ini nggak salah. Kita kan nggak mau juga dibilang orang yang nggak tahu balas budi, kan? Tapi kenapa kita nggak membawa balas budi ini ke satu tingkatan yang lebih ‘advanced’ dan lebih luas, yaitu dengan pay it forward tadi. Ketika kita berpikir dengan konsep balas budi biasa, maka kebaikan yang ada hanya berputar dilingkaran yang itu-itu saja. A bantu B, B balas bantu A, A membalas lagi dengan membantu B. Kapan dong kebaikan itu tersebar? Tapi jika kita terapkan konsep PIF, kebayang nggak yang terjadi? A membantu B, B menolong C, C membantu D, dan seterusnya. Betapa besarnya lingkaran kebaikan yang bisa terbentuk. Dan betapa cepatnya sebuah kebaikan bisa tersebar.

Memang nggak gampang untuk menerapkan konsep ini. Most of the time, orang biasanya menganggap bahwa mereka harus menjadi seseorang yang ‘besar’ dulu untuk bisa membantu orang lain. Padahal nggak harus begitu. Contoh yang gue kasih mengenai Angga-nya Maliq hanya satu ilustrasi. Lo nggak harus nunggu jadi seterkenal Angga dulu, untuk menolong orang lain ngeraih mimpinya jadi musisi. Jadi inget, dulu di SD, seorang teman mengajari gue cara cepat menghafal urutan sembilan planet di tata surya, dari yang paling dekat matahari sampai yang paling jauh. Dia menyingkatnya menjadi Meri Vetik Bunga Mawar Yang Segar Untuk Nenek Plinplan (untuk mengingat urutan Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto). Pinter yah temen gue itu. Gue, yang gak jago menghapal, merasa sangat terbantu dengan singkatan temen gue ini. Gue sebarin singkatan itu ke seluruh kelas. You know what, akhirnya banyak banget ide temen sekelas gue yang bermunculan untuk singkatan. Dari singkatan menghapal ibu kota provinsi, singkatan untuk nama pahlawan revolusi, sampai singkatan sepuluh sungai terpanjang di Indonesia.. hihihihi…

All I am saying is, what we pay forward doesn’t really have to be a big thing, and we ourselves don’t need to be ‘big’ people to pay something forward. Kalau semua orang hanya mau meneruskan kebaikan-kebaikan yang besar, ya nggak akan ada dong sesuatu yang berawal dari kebaikan kecil. Kalau semua orang nunggu sampai menjadi ‘seseorang’ untuk nerusin kebaikan, apa kita yakin kalau orang yang perlu bantuan bisa menunggu sampai kita menjadi orang besar?

Harus ada kesadaran seseorang ketika dia diberi kesempatan untuk pay something forward. Jangan malah menutup mata dan mikirin diri sendiri, dengan dalih apapun itu. Menerima kebaikan atau kesempatan dari seseorang adalah suatu anugerah, tapi meneruskan kebaikan tersebut, menurut gue, adalah suatu kewajiban.

Post to Twitter

vina A Cup of Tea

Is it November already??

November 4th, 2009

Gue baru menyadari kalau ini sudah masuk bulan November, yang berarti :

-  sudah lebih dari satu bulan sejak posting gue yang terakhir di blog ini

sebagai penulis (okay, I think  ‘penulis’ is such an overstatement buat gue, tapi gue gak menemukan istilah lain), gue memang tidak terlalu produktif dalam mengisi atau mengupdate blog. Akhir-akhir ini, pengalaman menulis gue tidak lebih dari 140 karakter, alias lebih sering twitter-an.. hehe..

- dua bulan lagi sudah tahun baru

jeez, how time flies… di awal tahun ini, gue membuat beberapa resolusi. Unfortunately, sampai dengan November ini, belum ada satu pun yang direalisasikan. And it’s only two months away for me making another resolution :)

- segera masuk musim hujan

bikin gue deg-degan karena daerah sekitar rumah gue tergolong rawan banjir. Mudah-mudahan tetap kering tahun ini. Oh iya, musim hujan juga berarti musim malas cuci mobil buat gue. Sakit hati rasanya kalo kita udah capek-capek cuci mobil, eh pas dibawa keluar si mobil harus tersiram air hujan lagi.. periiihhhh!!.. jadi mendingan nggak usah dicuci aja sekalian, bukan?

- akan segera ada sale dalam rangka menyambut Natal dan Tahun Baru

godaaan berat!! setelah menghabiskan dua hari training financial planning dan menyadari betapa banyak dana menikah dan pensiun yang harus mulai gue sisihkan, sale menjadi suatu momok yang menakutkan. How can I say no to ’sale 70%’, or ‘further reduction’, or ‘big discount’? On the other hand, gue nggak mau juga gak bisa pensiun nanti.. really need to work on the cash flow and planning nihhh..

Post to Twitter

vina A Cup of Tea

Ada batas tipis antara keisengan dan kebodohan

October 1st, 2009

Keisengan adalah ketika kita melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas

Kebodohan adalah ketika kita melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas dan merugikan orang lain

Pada satu titik, kebodohan menjadi sebuah kejahatan

Terutama ketika kita memilih dengan sadar untuk menjadi bodoh

Ketika kita menyaksikan keisengan dan tidak berbuat apa-apa, kita adalah penonton pasif

Ketika kita menyaksikan kebodohan dan tidak berbuat apa-apa, kita adalah penakut

Dan pada saat menjadi penakut, tidak ada pembelaan yang bisa dipakai

Intimidasi, ketidakpedulian, ketakutan, semuanya nggak akan mengubah fakta kalau sebuah kebodohan terjadi dan kita membiarkannya begitu saja

Keisengan adalah ketika kita melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas

Kebodohan adalah ketika kita melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas dan merugikan orang lain

Kebodohan yang sangat besar adalah ketika kita melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas, merugikan orang lain, dan orang lain itu berada dalam lingkungan lo sendiri

(Sorry, nyampah di ruang publik kaya gini. I just need to let it out of my chest)

Post to Twitter

vina A Cup of Tea

The Man Who Creates A Day

August 31st, 2009

Dua minggu yang lalu kantor gue kedatangan tamu dari luar negeri. Seorang petinggi yang, katanya, waktu interview rekrutmennya langsung berhadapan dengan founding fathernya kantor gue. Kebayang nggak? Betapa tua dan pengalamannya dia .. :)  Buat lebih akrab, kita panggil aja dia Bob.

Berhubung kedudukannya yang penting banget, Bob ini jadi sering sekali melakukan perjalanan ke luar negeri. Bayangkan aja, selama tahun 2009 ini, yang berarti baru dari Januari sampai Juli kemarin, Bob sudah membuat 38 trip keluar negeri. Kalo diambil rata-rata, itu berarti sekitar 5 trip per bulan, atau paling nggak 1 trip per minggu!

Teman gue kemudian ada yang iseng nanya sama Bob,”how do you find time for your self, your family, and your hobby?” Tau nggak jawabannya apa?

“Easy, I create my own day!”

Hmmmm… setahu gue sih, Tuhan memang masih menciptakan banyak hal, tapi tidak hari. Eh, by the way, kalo ada tambahan satu hari lagi dalam seminggu, mau kita namain apa ya? Hasunggu, untuk singkatan dari ’Hari Sesudah Minggu’? atau Habenin, untuk ‘Hari Sebelum Senin’? :) … Anywayyyyyy, Jadi, gimana cara Bob menciptakan hari?

Menurut Bob, dia selalu merencanakan semua perjalanannya di awal tahun. Yang dia lakukan adalah dia membuat tripnya ke satu arah, yaitu arah timur. Jadi misalnya dia berangkat dari Indonesia. Terus dia perlu melakukan trip ke Australia, Vietnam dan Thailand. Maka dia akan membuat rute perjalanannya menjadi Jakarta – Thailand – Vietnam – Australia. Dan seterusnya demikian ke arah timur. Kenapa ke arah Timur? Karena waktu berjalan lebih dulu semakin ke timur. Elo jadi ’memanipulasi’ waktu perjalanan. Contoh gampangnya, dari Jakarta ke Denpasar itu perlu dua  jam penerbangan. Jadi kalau lo berangkat dari Jakarta jam 9, seharusnya lo baru sampai pukul 11. Tapi karena Denpasar itu lebih ke timur dan lebih cepat satu jam, maka elo akan sampai di Denpasar pukul 12.00. In other words, elo dapat keuntungan satu jam. Kalau ini diteruskan ke arah Timur, elo akan dapat keuntungan waktu yang lebih banyak lagi. Pernah nonton atau baca ‘Around The World in 80 Days’? Di situ, si tokoh utama Mr. Fogg, akhirnya mendapatkan keuntungan waktu satu hari karena rute perjalanannya yang ke arah timur, seperti berikut :

London - Suez – Bombay – Calcutta - Hong Kong – Yokohama -  San Francisco - New York - London

Naaahhh… Bob, menurut gue, mengaplikasikan ide Mr. Fogg ini, sehingga dia bisa menciptakan harinya sendiri. Cool, eh?

Apa yang dilakukan Bob membuat gue jadi malu. Soalnya gue sendiri suka banget pakai alasan ‘nggak punya waktu’ untuk tidak melakukan banyak hal. Mulai dari ngeberesin kamar, menyampuli buku-buku gue, ketemu teman-teman lama, kumpul bareng keluarga besar, menyiangi padi di sawah, mengangon kerbau di ladang, menggembalakan domba di padang rumput… okeeee, mungkin udah terlalu jauh nih gue mikirnya. Intinya, alasan nggak punya waktu selalu akan terdengar begitu benar dan begitu pintar tiap kali kita nggak melakukan sesuatu yang memang memerlukan alokasi waktu yang tidak sebentar. Padahal, kalo dipikir-pikir, kamar gue kan nggak salah. Apa iya, karena gue sibuk, dia jadi harus menanggung sarang laba-laba di langit-langit karena nggak sempat gue bersihin? Apa iya buku-buku gue harus menanggung akibat dimakan rayap karena gak sempat gue sampulin, padahal mereka gak ikutan dalam membuat gue sibuk? Belum lagi kerbau dan domba tak bersalah itu… oke, stop there!

Balik lagi, selalu ada cara kok. Bob membuat caranya dengan menciptakan harinya sendiri, dengan rencana perjalanan yang cermat. Kita yang masih di dalam kota aja, seharusnya bisa lebih leluasa, kan? Masa sih 24 jam yang ada dalam sehari nggak bisa diakalin supaya cukup buat semua? Kalau 24 jam nggak cukup, masa iya 7 hari seminggu nggak bisa diakalin? Nggak bisa juga? Come on, 4 minggu sebulan? It’s all about your will and witty planning.
Jadi, next time, kalo ada yang bilang sama elo (terserah deh mau keluarga, temen atau pacar), “sorry, I don’t have time”, you can answer it, “Then MAKE one!”

Post to Twitter

vina A Cup of Tea

Let’s Be Pretty!

August 3rd, 2009

Menurut lo, elo cakep nggak? Kalo gue ditanya gini, biasanya gue akan menjawab :

“cakep, cuma sayang belum zamannya aja” atau

“cakep dong, tapi di tahun-tahun kabisat aja!”

Hehehe…

Sebagai salah satu anggota kelompok mayoritas dari mereka yang nggak memiliki wajah yang bisa ’mengalihkan dunia seseorang’ atau badan yang bisa lewat di antara dua kursi berhimpitan, gue rasa gue cukup objektif untuk mengatakan kalau jadi cantik itu perlu. Okeee, ’cantik’ kedengaran terlalu ekstrem ya? Gimana kalau gue bilang, daya tarik fisik alias physical attraction itu perlu?

Gue suka menganalogikan begini, katakanlah lo masuk ke toko kue. Ada dua kue disitu. Yang satu sponge cake polos. Yang satu lagi penuh dengan icing, taburan coklat, ada strawberrynya pula. Yang mana yang akan bikin elo tertarik untuk mencoba rasanya? Bener nggak kalau gue bilang, kue yang ke dua? Setelah dicoba, mungkin aja kita jadi tahu kalo kue ke dua itu terlalu manis. Atau justru pahit karena gosong sedikit. Tapi tetap aja faktanya adalah si kue ke dua mendapat kesempatan lebih dulu untuk dicoba.

Dan menurut gue, analogi itulah yang berlaku di dunia tempat tinggal kita. The pretties will always have bigger chance, because their look charms people. Ketika kita belum punya latar belakang informasi, alias zero footing, rasanya sah-sah aja dong kalo penilaian didasarkan kepada apa yang bisa kita lihat duluan. Buat beberapa orang hal ini mungkin kedengerannya nggak adil. Tapi kalo kita pikirin lagi, sebenernya orang sering kok membuat penilaian berdasarkan tampilan fisik. Nyokap gue kalau beli telur ayam di warung selalu milih yang besar dan bersih. Padahal kan kandungan gizi telur ayam yang besar dan yang kecil sama aja kan? Kita ketemu pengemis yang masih muda dan badannya tegap, kita akan mikir ‘badan masih kuat gitu, kok ngemis?’ Laahhh, padahal kita kan gak tahu apa aja usaha yang udah si pengemis muda lakukan.. Siapa tahu dia udah jungkir balik usaha cari makan dengan kerjaan lain, tapi nggak dapat uang juga. Cuma karena badannya masih bagus, kita seolah menilai dia nggak usaha dan cari jalan singkat dengan ngemis. Mungkin kalo si pengemis tahu pikiran kita, dia akan ngomong balik, “memang salah gue kalo badan gue masih kuat??” hehe…

So, it’s a normal thing, physical attraction is. Daripada marah-marah dan ngerasa diperlakukan tidak adil, lebih baik kita mulai berbenah diri dengan tampil semenarik mungkin. Kita pastinya pengen banget kan orang tahu kalo kita lucu, punya otak yang cerdas dan kepribadian yang menyenangkan. Kenapa nggak bikin kesempatan kita jadi lebih besar dengan menjadi physically attractive? Cantik atau ganteng mungkin udah dari sananya, tapi cara berpakaian, cara dandan dan cara jaga badan adalah hal-hal yang bisa dipelajari. And by those, physical attraction is only a matter of time! J

Post to Twitter

vina A Cup of Tea

Whenever there is hope, there is life …

July 13th, 2009

Setiap orang punya harapan dalam hidupnya. Semua orang mungkin berdoa semoga harapannya jadi kenyataan. Yang orang sering lupa adalah, harapan tersebut menjadi kenyataan berikut dengan konsekuensinya. Pernah nonton film Bedazzled ? Yang main Liz Hurley dan Brendan Fraser. Liz Hurley jadi jin cantik yang tugasnya mengabulkan permohonan Brendan Fraser. Dan Brendan pun mengajukan harapan-harapannya. Mulai dari jadi kaya, sampai jadi cowok sensitif J (jeez, gue nggak tahu kalau sampai perlu kekuatan jin untuk jadi sensitif buat seorang cowok). Semuanya dikabulkan, hanya saja semuanya membawa konsekuensi masing-masing. Kaya tapi jadi gembong mafia. Jadi sensitif tapi akhirnya diputusin pacarnya justru karena terlalu perasa. Hehe..

Bahkan Cinderella pun mendapatkan harapannya untuk pergi ke pesta dansa Pangeran dengan konsekuensi pulangnya nggak boleh lebih dari jam 12 malam (untung Pangerannya nggak bikin partynya di klub, kalo iya, mungkin Cinderella nggak ketemu dia. Lha, pesta di klub mana yang udah rame sebelum jam 12 malem, coba?)

Kita nggak mungkin berharap dengan detail. Unless, lo memang bisa memperkirakan ya, konsekuensi dari harapannya apa, sehingga elo bisa mengambil langkah preventif dengan merinci bagaimana elo pengen harapan tersebut menjadi kenyataanya. Hahaha.. tapi gue rasa nggak ada yang kaya gitu. Soalnya banyak yang ketika mereka mendapatkan apa yang diharapkan, ternyata nggak menyangka bahwa ada akibatnya. They don’t realize that getting the expectation comes in a package with the consequences. Akhirnya apa? Kita kaget dengan konsekuensi tersebut. Akhirnya malah kita melupakan, kalo sebenernya kita sudah mendapatkan yang kita harapkan.

Jadi, bijak-bijaklah kalau punya harapan. Karena kita nggak pernah tahu dengan cara apa dia menjadi kenyataan, apa akibat yang dibawanya. Tapi juga jangan jadi takut berharap. Hell, gue sih memilih, berharap dengan bebas, dan berurusan dengan konsekuensinya, daripada jadi nggak punya harapan sama sekali. What good is it life without hope?

Post to Twitter

vina A Cup of Tea

And I Love You Because …

June 1st, 2009

Ada banyak alasan kenapa kita mencintai seseorang. Bisa karena sifatnya, seperti :

‘dia pengertian banget’

‘gue belum pernah ketemu orang yang sesabar itu’

‘keceriaannya bikin gue selalu pengen deket sama dia’

Ada yang cinta karena tampilan fisik. Banyak yang akan menyangkal hal ini, but let’s face it, physical attraction does matter for some people

‘gue suka banget lihat matanya.. bagus.. ‘

‘gue memang suka cewe berkulit putih, jadi waktu kenalan gue langsung terkesan sama kulitnya yang cerah’

Ada juga sih yang mencintai untuk alasan yang mungkin lucu kedengerannya :

‘soalnya gue baru ketemu orang yang bisa ngukur ketinggian ombak laut’ (peace, ya Sit!)

‘dia ngebela-belain ngambilin semua kacang dari roti bakar gue, satu per satu, karena dia tahu gue nggak suka kacang!’(gue udah izin ya, dut!)

Nggak ada yang salah dengan alasan-alasan tersebut. Untuk gue sendiri, mencintai itu sepenuhnya main hati. Sehingga alasan-alasan yang disebutkan mungkin cuma rasionalisasi aja. Padahal main hati kan nggak salah juga ya, tokh kita sendiri yang ngejalanin.

Gue ingat sama bukunya Ninit Yunita, Test Pack. Ada kutipan didalamnya yang menurut gue kena banget. Gue lupa tepatnya bagaimana kata-katanya (berhubung buku itu ternyata dipinjam sama entah siapa dan belum balik ke gue), tapi idenya kurang lebih begini, ‘saya mencintai dia karena saya mau dan memilih untuk itu. Bukan karena dia baik, sabar atau menarik. Saya cinta dia karena saya dengan sadar memilih untuk mencintainya dan itu seharusnya cukup untuk kita ngelewatin apa pun yang terjadi’.

Akan selalu ada orang lain yang lebih sabar dari pasangan kita. Akan selalu ada seseorang yang bisa lebih mengerti kita. And I can assure you, akan selalu ada lelaki atau perempuan yang lebih menarik secara fisik dari pasangan kita. Tapi kan kita gak main ninggalin pasangan kita begitu saja setiap kali seseorang yang lebih baik muncul. Not when you realize the reason that you love her or him is because you chose it.

I don’t believe that love fades away.

Passion might fade away, but the love is always there.

It may transform from the kind when a single touch will rock the entire of your universe, to the kind when a silent moment feels like the best conversation ever.

She or he may change from the one you climb Mount Everest together with, to the one you push the grocery cart in a nearby supermarket with.

But the love is there.

Dan alasan kenapa tetap ada, adalah karena kita MEMILIH untuk mencintainya.

(Untuk teman-teman gue yang sedang mengalami sedikit ‘sentilan’ dalam percintaan J)

Post to Twitter

vina A Cup of Tea

Kenalin, saya Vina dan saya (akhirnya) punya Facebook

May 27th, 2009

Gue pernah posting di multiply gue tentang gue yang gak punya facebook . Dan memang gue gak pernah berniat bikin account di FB. Males maintainnya…

But thanks to my friend, Santi Abed, yang prihatin melihat gue jauh dari jangkauan hingar bingar dunia cyber networking, dengan segala kerelaan hatinya, diam-diam ngebuatin gue account di FB. Katanya ‘Surprise!’

Yah, jadilah sekarang gue salah satu dari 70 juta orang pengguna social network satu itu… Baru satu hari, udah ada temen gue yang keukeuh banget pengen ngajarin gue menggunakan wall, nge-tag, dan nitty gritty facebook lainnya… hehe… satu-satu yaaaa, kan gak bisa langsung jago..

Seorang anak kantor bilang kalo dia kecewa sama gue, karena sebelumnya dia pikir gue akan bertahan melawan arus zaman ..hahaha… ini kado dari temen, bung, harus diterima dong :) yet, lo juga add gue tokh akhirnya…

Ada juga temen gue yang ketawa guling-gulingan dan berkomentar, “jadi lo sekarang ikut mainstream juga ya? What’s next? Lo akan punya account BCA dan beli Blackberry?”   BCA, nggak lah, belum perlu. Gue udah punya Mandiri yang gue rasa sudah cukup mainstream juga. Blackberry? Ini sih bukan masalah gue gak mau mainstream, tapi memang gak punya duit buat beli. Kalo ada yang mau kasih, saya dengan senang hati akan pakai Blackberrynya… hoho..

Ya sudah gitu aja… jadi sekarang gue jadi pengikut FB.. Mudah-mudahan tujuan Abed ngebuatin gue account FB tercapai, ya Bed :)

Post to Twitter

vina A Cup of Tea